SketsaNusantara.id - Keresahan akibat kerusakan jalan raya Jember-Lumajang akhirnya memuncak menjadi protes warga yang tidak lagi bisa menahan kekesalan.
Jalan provinsi yang menjadi penghubung utama itu kini rusak parah, dipenuhi lubang-lubang besar, dan sangat membahayakan pengendara. Warga, yang sebagian besar pengguna jalan, terpaksa turun ke jalan untuk menyuarakan keluhan mereka.
Di tengah aksi tersebut, terlihat sesuatu yang tidak biasa, yakni pohon pisang ditanam di tengah jalan rusak. Hal itu bukan sekadar simbol protes, tetapi juga upaya memperingatkan pengendara agar berhati-hati saat melintas.
Para peserta aksi mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera menertibkan truk Over Dimension Over Loading (ODOL) yang mereka anggap menjadi penyebab utama kerusakan jalan.
Suasana protes cukup damai. Masyarakat berharap aksi mereka menjadi perhatian pemerintah. Namun, kekhawatiran akan aksi yang lebih keras muncul jika tidak ada tindakan nyata dari pihak berwenang.
Kerusakan jalan di wilayah ini disebut-sebut akibat truk ODOL yang sering melintas membawa muatan semen dari PT Imasco Asiatic.
Truk-truk ini melanggar aturan dengan membawa muatan hingga 60-70 ton, jauh di atas kapasitas maksimum 20 ton yang diperbolehkan untuk kelas jalan tersebut. Akibatnya, jalan sepanjang puluhan kilometer rusak berat.
Tidak hanya jalan yang menjadi korban, nyawa manusia juga melayang akibat kecelakaan yang melibatkan truk-truk berat ini.
Warga menyatakan bahwa pemerintah terkesan tidak mampu mengatasi masalah ini, bahkan terlihat diam terhadap pelanggaran yang dilakukan perusahaan besar asal luar negeri tersebut.
Salah satu tokoh masyarakat, M Rochul Ulum, yang akrab disapa Cak Pitix, menyampaikan bahwa aksi tanam pisang ini adalah wujud keprihatinan sekaligus seruan kepada semua pihak untuk peduli.
Ia menekankan bahwa kerusakan jalan tidak hanya menyulitkan aktivitas warga, tetapi juga membahayakan anak-anak sekolah yang melintas setiap hari.