Ia pun mengungkapkan tantangan saat awal memproduksi AMDK Tiber. Tantangan terberat adalah saat mengurus perizinan.
“Waktu yang kami perlukan cukup lama, 1 tahun. Baru di akhir tahun 2022, tepatnya bulan November, Tiber kami lounching,” ucapnya.
Baca Juga: Mantan Menkopolhukam Mahfud MD Tanggapi Vonis 6,5 Tahun Harvey Moeis: Duh Gusti...
Dia menandaskan, itu hanya persoalan izin. Tantangan lainnya juga butuh memeras otak. Seperti pengadaan kemasan. Perbaikan alat produksi, kemudian pemasaran.
“Soal pemasaran, setiap berjumpa kolega, teman, sahabat, kawan, saya selalu menawarkan Tiber. Kalau di keorganisasian Pemda tentu ini menjadi wajib. Itu diperkuat oleh regulasi dari Bupati Jombang,” katanya.
Untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggan di OPD (organisasi perangkat daerah) pihaknya meminjami galon air.
Baca Juga: Mantan Menkopolhukam Mahfud MD Tanggapi Vonis 6,5 Tahun Harvey Moeis: Duh Gusti...
“Sembari dalam rangka pengurangan penggunaan sampah plastik,” ungkapnya.
Kini, Tiber mampu memproduksi 400 dus kemasan gelas per sifnya. Sedangkan untuk kemasan botol per sif mampu memproduksi sebanyak 300 dus. Untuk menunjang pemasaran, Perumdam Tirta Kencana memili armada.
“Armada itu bukan pembelian baru. Namun kami mendesain ulang kendaraan yang kami miliki untuk standar pengangkutan barang. Namun, desain tersebut sesuai standar pabrikan, yakni Daihatsu sebagai karoserinya. Selain dapat memangkas biaya, perombakan dua armada yang kami miliki tersebut aman saat digunakan,” terang dia.
Agar keseluruhan produksi dapat ditekan biayanya, saat ada kerusakan alat produksi, karyawan Tirta Kencana dapat memperbaiki sendiri.
“Saya mendatangkan profesional untuk mengajari karyawan yang khusus dalam bidang maintenance. Waktunya cukup lama, 3 bulan,” ungkap Hasyim.
Sebab, ungkap Hasyim, ada salah satu alat jika diperbaiki sendiri dapat menekan biaya sampai 3 kali lipat dari harga beli.