"Contohnya Bahlul. Ada yang menyebutnya sebagai wali. Nama aslinya adalah Wahab bin Amr," ungkapnya.
Mahfud MD menceritakan kisah Wali Bahlul yang merendahkan dirinya sendiri, bahkan tak pernah tergiur dengan pemberian harta melimpah dari pemimpin kaya raya.
"Bahlul ini tinggalnya di kompleks kuburan umum. Suatu hari Khalifah Harun Al-Radyid mengajak Wahab hidup di istana, akan diberi rumah dgn segala pelayanannya," tulis Mahfud.
"Tapi, Wahab menolak dan menjawab, 'Buat apa aku hidup di istana? Seindah apa pun istana, toh semua penghuninya akhirnya kembali ke kuburan. Wahai Khalifah, aku tidak mau pindah ke istana, Anda saja yang pindah ke sini'," imbunya.
"Khalifah Harun Al Rasyid yg adil bijaksana itu menangis seraya beristighfar. Sejak saat itulah orang awam menjuluki Wahab bin Amr sebagai Bahlul alias "Si Bodoh" karena tak mau diajak tinggal di istana. Padahal, menurut sementara ahli tasawuf, Bahlul adalah seorang wali," pungkas Mahfud MD.
Kisah Wali Bahlul mencuri perhatian publik dan mengundang beragam komentar dari netizen di media sosial.
Banyak warganet mengaitkan kisah Wali Bahlul yang diceritakan Mahfud MD dengan Gus Miftah usai videonya mengejek dan merendahkan pedagang kecil viral di media sosial.
Ada pula warganet yang membandingkan sikap Wali Bahlul yang jarang ditemukan di Indonesia dan berharap kisah ini menjadi teladan bagi pejabat pemerintahan di tanah air.
"Kalau semua sepemikiran dengan Wahab bin Amr maka kuburan penuh. Cerita2 tasawuf semacam ini hanya sebagai pengingat saja, bukan untuk diikuti atau dijalani," komentar akun @PilipiUser.
"Betul, Tasawuf mendekati Allah ini ada 2 jalan. Ada yang menjauhi kehidupan dunia seperti Bahlul, tetapi ada pula yang menggeluti dunia untuk membangun kebaikan di tengah masyarakat seperti Khalifah Harun Al Rasyid dan Umar bin Abdul Aziz, keduanya baik," jawab Mahfud MD.
Tak sedikit pula warganet yang berharap kisah Wali Bahlul ini menjadi pengingat bagi ulama-ulama di Indonesia untuk bisa menjaga lisannya tidak seperti Gus Miftah yang terbiasa merendahkan orang lain karena tergiur dengan urusan duniawi.