Jared kemudian mengambil alih bisnis keluarga dan mengembangkan sayap bisnisnya di berbagai sektor. Ia juga merupakan pemilik perusahaan media The New York Observer sejak tahun 2006.
Pada 2009, ia menikahi Ivanka Trump, yang turut membawanya lebih dekat ke kancah politik nasional, meski ia pernah dituduh melakukan nepotisme karena diangkat menjadi penasihat senior presiden lewat "jalur keluarga".
Jared Kushner dianggap melanggar Undang Undang anti-nepotisme tahun 1967 yang melarang pejabat publik mempekerjakan anggota keluarga. Namun, pengacara Kushner menyebut Undang Undang tersebut sudah tidak berlaku lagi di Amerika.
Sebagai penasihat senior Trump, Jared Kushner berperan besar dalam menyusun kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
Salah satu capaian terbesarnya adalah normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko.
Baca Juga: Prabowo di Forum Bisnis Beijing, Kolaborasi Indonesia-China untuk Perdamaian dan Investasi Besar
Langkah tersebut dikenal dengan nama Abraham Accords, sebuah kesepakatan bersejarah yang diharapkan dapat membuka jalan menuju stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Rencana Kushner untuk Timur Tengah juga menuai pro kontra. Beberapa pihak melihat kesepakatan ini sebagai langkah positif dalam mengurangi ketegangan.
Namun, di sisi lain, banyak yang mengkritiknya karena dianggap mengabaikan kepentingan Palestina.
Kushner dianggap tidak memperjuangkan Solusi Dua Negara dengan solusi yang memberikan hak kemerdekaan bagi Palestina dan pengakuan Israel sebagai negara tetangganya.
Terlebih, pada bulan Februari 2024 lalu, Kushner pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut wilayah pantai Gaza merupakan "properti berharga".
Dalam wawancara yang diunggah di kanal YouTube Middle East Initiative, Jared Kushner memuji potensi "yang sangat berharga" dari "properti tepi laut" yang ada di Gaza, Palestina dan menyarankan Israel harus memindahkan warga sipil sementara mereka "membersihkan" jalur tersebut.