"Bahkan, jangankan digital, ke bank saja masih enggan, masih lebih senang lewat warung-warung yang sifatnya dekat dengan rumah. Tapi intinya adalah masih butuh physical presence dan personal touch," jelas Sunarso lagi.
Sunarso juga menggambarkan, AgenBRILink persis seperti layanan kantor cabang BRI.
Keberadaan AgenBRILink berupa warung, toko kelontong dan sebagainya ini bertujuan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas dan meningkatkan inklusi keuangan di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh layanan bank secara formal.
Hingga saat ini, pertumbuhan AgenBRILink terus meningkat dan sudah mencapai angka 1.022 juta agen.
Keberadaan AgenBRILink juga cukup potensial di sisi bisnis hingga BRI berhasil menerima fee sebesar Rp1.5 triliun.
Sementara AgenBRILink menerima 2 kali lipat dari fee tersebut dengan nilai mencapai Rp2.5-3 triliun.
Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia masih membutuhkan layanan secara fisik.
"Itulah kehadiran BRI dengan agen dengan merelakan menutup sebagian cabang-cabangnya dan bisa tetap melayani masyarakat justru lebih dalam, lebih luas, dan kemudian lebih menjangkau masyarakat lebih banyak. Dan ternyata transaksi lewat warung-warung itu volumenya sangat besar,” tambah Sunarso.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!