SketsaNusantara.id - Pembakaran buku Najwa Shihab yang viral di media sosial masih santer jadi sorotan publik.
Peristiwa tersebut bahkan mendapat atensi dari Soesilo Toer, sastrawan yang merupakan adik dari Pramoedya Ananta Toer, penulis novel ternama di Indonesia.
Pada acara Ubud Writers dan Readers Festival yang diselenggarakan di Bali pada hari Minggu, 27 Oktober 2024 kemarin, Soesilo Toer memberikan pesan menohok yang berhubungan dengan fenomena pembakaran buku belakangan ini.
Sastrawan berusia 87 tahun itu dengan lantang menyerukan pesan pada generasi muda untuk membaca buku bukan malah membakarnya.
"Buku itu, bacalah, bukan dibakar!" kata Soesilo Toer sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah akun Instagram @soesilo_toer pada hari Senin, 28 Oktober 2024.
Pria yang akrab disapa Pak Soes itu lantas mengingatkan masyarakat pada peristiwa di zaman Orde Baru.
"Tahun 1965, 50 buku Pram dibakar, maka bacalah buku itu bukan dibakar," tandasnya.
Jika tarik waktu ke belakang, peristiwa pembakaran buku ini pernah terjadi pada era pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.
Sebelumnya, buku-buku yang dianggap terindikasi dan mengandung paham komunisme dibakar pada tahun 1965.
Pembakaran dilakukan oleh Angkatan Darat, termasuk buku Trilogi Gadis Pantai jilid 2 dan 3 karya Pramoedya Ananta Toer.