Pada perang tersebut, terang dia, diikuti sekitar 150 ribu militer sipil (milisi) bersama warga Surabaya. Terbanyak adalah dari milisi yang dipimpin KH Wahab Chasbullah. Dia menegaskan, para milisi ini mayoritas warga NU yang diminta ulama untuk bergabung perang melawan penjajah.
“Sekarang kita di depan makam beliau. Kami minta satu pengorbanan sahabat-sahabat, meneruskan jariyah Mbah Wahab yang dulu sudah mengorbankan hartanya untuk kepentingan militer dalam mengusir penjajah,” pinta Gus Syafik sembari menahan tangis.
Baca Juga: Bawa Contekan Saat Debat Pertama, Warga Jombang Inginkan Hal Ini Tak Terulang di Debat Berikutnya
Dia melanjutkan, kemerdekaan tidak akan terjadi tanpa adanya perang 10 November yang sebelumnya disulut adanya resolusi jihad dari ulama NU.
“NU bersama Banser bertugas untuk menjamin republik kita tercinta. Kemerdekaan itu akan terjaga bila sahabat-sahabat menjaga eksistensi mempererat persatuan,” tegas dia.
“Kita sebagai kader pergerakan pemuda Ansor dan Banser di dalamnya harus memiliki jiwa nasionalisme,” tambahnya.
Acara apel tersebut dihadiri sejumlah pengurus badan otonom (Banom) NU di Kabupaten Jombang. Diantaranya, Fatayat, Muslimat, Ansor, termasuk Satkorwil Banser Jawa Timur, Ketua PW Ansor Jatim,
Yang menarik, Kades Tambakrejo, Kecamatan Jombang menjadi salah satu peserta pendidikan dan pelatihan tingkat dasar (Diklatsar) Banser angkatan 23 – 33.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!