news

Keunikan Percandian Batujaya yang Dikenal Sebagai Situs Tertua yang Berdiri di Era Kerajaan Tarumanagara, Ternyata Menampilkan Sebuah Toleransi Ini

Jumat, 18 Oktober 2024 | 20:00 WIB
Situs Percandian Batujaya di Karawang, Jawa Barat. (instagram.com/@explore.candibatujaya)

SketsaNusantara.id- Kompleks Percandian Batujaya merupakan sebuah kompleks percandian Buddha kuno yang lokasinya di Provinsi Jawa Barat.

Secara administratif, Situs Percandian Batujaya ini terletak di dua desa yakni Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan juga Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang.

Sementara itu untuk luas situsnya sekitar lima km2 dan berada di tengah area persawahan, serta sebagian lainnya dekat dengan rumah penduduk yang tidak terlalu jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (Ujung Karawang).

Baca Juga: Mengenal Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara Yang Masuk Catatan Marcopolo Sebagai Negara yang Tentram dan Kaya

Alasan Situs Batujaya tersebut dikenal dengan nama percandian sendiri yaitu karena terdiri atas sekumpulan candi yang tersebar di sejumlah titik.

Kompleks Percandian Batujaya ini diperkirakan dibangun pada masa berkembangnya Kerajaan Tarumanagara yang bercorak Hindu, sehingga disebut sebagai candi tertua di Nusantara dan dikutip SketsaNusantara.id dari p2k.stekom.ac.id.

Hal itu tentu saja menjadi salah satu keunikan tersendiri bagi situs Percandia Batujaya yang diketahui sebagai candi bersorak Buddha, namun didirikan di lingkungan kerajaan yang berlatar belakang Hindu.

Baca Juga: Mengenal Sosok Raden Patah dan Bagaimana Perananya dalam Penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa

Pembangunan area candi Buddha yang megah, namun lokasinya berada di kerajaan Hindu itu secara tidak langsung memperlihatkan sebuah rasa toleransi yang tinggi antar umat beragama pada zaman itu.

Selain itu, Percandian Batujaya juga relatif dekat dengan Situs Cibuaya yang terdapat di sekitar 15 km di arah timur laut.

Situs Cibuaya dikenal sebagai sebuah penemuan bangunan kuno pra-Hindu yang disebut sebagai "Kebudayaan Buni" dan diperkirakan berasal dari abad pertama Masehi.

Baca Juga: Area Tersembunyi di Istana Kematian Antaka Pura, Tempat Amangkurat I Tidur dengan Jasad Ratu Malang Selama 7 Malam

Bukti itu seolah memperjelas tulisan Fa Hien, seorang bhiksu dari Cina yang pernah singgah ke Pulau Jawa pada tahun 414 Masehi.

Menurut catatannya tersebut, bhiksu ini menyebut:"Di Ye-po-ti" atau sebutan dari Jawa Dwipa dimana besar kemungkinannya adalah Kerajaan Tarumanagara yang memang sedang berjaya di zaman itu.

Halaman:

Tags

Terkini