Kondisi gerah juga dapat dirasakan hingga malam hari saat langit dalam keadaan masih tertutup awan sehingga suhu udara naik disertai kelembaban udara relatif tinggi.
Selanjutnya, kondisi ini akan berangsur-angsur dirasakan mendingin kembali jika hujan sudah mulai turun saat yang diperkirakan akan terjadi pada bulan November-Desember 2024 mendatang.
Sementara itu, BMKG menyebut ledakan matahari yang terjadi belakangan ini akan menyebabkan badai magnetik kuat dengan skala G4, yang berpotensi melanda Bumi dalam beberapa hari ke depan.
Ledakan matahari atau solar flare merupakan letusan radiasi yang terjadi di permukaan matahari dan disebabkan oleh pelepasan energi magnetik dari bintik matahari.
Energi yang dilepaskan dalam bentuk radiasi elektromagnetik ini sangat kuat dan dapat mempengaruhi komunikasi berbasis satelit dan sistem GPS, serta menyebabkan gangguan listrik di Bumi.
Ledakan dengan skala R3 seperti yang terjadi pada 7 Oktober 2024 termasuk dalam kategori tinggi, dengan dampak yang cukup signifikan terhadap infrastruktur teknologi.
Namun, BMKG menyatakan bahwa dampak ledakan matahari disusul badai magnet ini dirasakan pada rentang yang cukup rendah dan relatif aman untuk wilayah Indonesia.
Garis-garis medan magnet cenderung lebih horizontal dan tersebar lebih merata sehingga terbilang sulit mencapai wilayah ekuator bumi.
Oleh sebab itu, Indonesia yang berada di wilayah ekuator dan dilintasi garis khatulistiwa relatif aman dari dampak badai magnetik akibat ledakan matahari.
Meski begitu, BMKG menyebut gangguan pada teknologi komunikasi akan secara tidak langsung bisa dirasakan masyarakat Indonesia dalam waktu singkat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!