Kamis, 4 Juni 2026

Terjadi Ledakan Matahari dalam Beberapa Hari Terakhir, Benarkah Jadi Penyebab Suhu Indonesia Makin Panas? Begini Penjelasan BMKG

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 14 Oktober 2024 | 07:00 WIB
Ilustrasi solar flare atau ledakan matahari disusul terjadinya badai magnetik yang berdampak pada gangguan komunikasi di Bumi.  (swpc.noaa.gov)
Ilustrasi solar flare atau ledakan matahari disusul terjadinya badai magnetik yang berdampak pada gangguan komunikasi di Bumi. (swpc.noaa.gov)

 

SketsaNusantara.id - Kabar mengejutkan, Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat atau NOAA beberapa waktu lalu melaporkan terjadinya ledakan matahari (solar flare) yang cukup besar.

Dilansir dari laman resmi NOAA, diketahui ledakan matahari cukup kuat dengan skala R3 terjadi pada hari Senin, 7 Oktober 2024 dan termasuk fenomena ledakan terbesar dalam 7 tahun terakhir.

Ledakan atau solar flare tersebut disusul dengan terjadinya badai matahari yang mencapai puncaknya pada hari Jumat, 11 Oktober 2024.

Baca Juga: Kenapa Bisa Terjadi Hari Tanpa Bayangan? Ternyata Inilah Penyebab hingga Kaitannya dengan Suhu

Ledakan ini memiliki dampak signifikan, baik terhadap kondisi di ruang angkasa terutama Bumi. Fenomena solar flare dihubungkan jadi penyebab suhu panas yang sangat gerah belakangan di beberapa wilayah Indonesia.

Lantas, benarkah cuaca panas dan meningkatnya suhu udara di Indonesia merupakan salah satu dampak dari ledakan matahari yang terjadi belakangan ini?

Berdasarkan informasi yang diperoleh SketsaNusantara.id dari akun Instagram @infobmkg, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa cuaca panas atau peningkatan suhu di Indonesia bukan merupakan dampak ledakan matahari atau solar flare.

Baca Juga: Suhu Minus Hingga Terdapat Butiran Es di Sejumlah Wisata Indonesia, Lakukan Langkah Ini Jika Tak Ingin Alami Hipotermia

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyebut cuaca panas yang terasa makin gerah akhir-akhir ini terjadi akibat dari pemanasan permukaan sebagai dampak dari berkurangnya pembentukan awan sehingga curah hujan berkurang.

Kondisi yang terasa makin gerah merupakan sesuatu yang umum terjadi pada periode peralihan musim hujan ke musim kemarau atau musim pancaroba sebagai kombinasi dari dampak pemanasan permukaan dan kelembaban yang masih relatif tinggi di berbagai wilayah Indonesia.

"Pada musim peralihan pagi hari biasanya kondisi cerah, siang hari mulai terasa panas terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi peningkatan suhu udara, kemudian secara periodik akan terjadi hujan," tutur Dwikorita Karnawati dikutip dari laman resmi BMKG pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024.

Baca Juga: Suhu Arab Saudi terus Mengalami Kenaikan Drastis Hingga Sebabkan Kematian, Pihak Kerajaan Beri Sinyal Peringatan Bagi Jemaah Haji

Diketahui, suhu di beberapa wilayah Indonesia selama sepekan terakhir tercatat lebih dari 33 derajat Celcius. Bahkan ada yang mencapai 35-36 derajat Celcius di Semarang dan Surabaya serta wilayah Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Majalengka, Jawa Barat yang memecahkan rekor dengan suhu 37 derajat Celcius.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X