Anies Baswedan lantas meminta masyarakat untuk memantau penyelidikan polisi dan berharap tak ada lagi aksi premanisme atau kekerasan yang berusaha membungkam kebebasan berbicara di Indonesia.
"Rakyat tentu memantau, akankah hukum di negeri ini lunglai terhadap pembungkaman kebebasan berbicara?" pungkas Anies.
Cuitan Anies seketika mendapat respons positif dari warganet. Netizen turut menyayangkan aksi premanisme yang membubarkan diskusi FTA di Kemang, Jakarta Selatan.
Ada pula warganet yang mengapresiasi polisi terkait penanganan masalah ini, tetapi tak sedikit pula yang khawatir masalah ini tak bisa diusut tuntas.
"Apresiasi untuk Polri yang gercep menangani kasus premanisme meskipun agak terlambat, semoga bisa diusut tuntas sampai ketahuan sapa dalang utamanya," komentar akun @edikecut.
"Maaf pak Anies, tapi kami agak ragu dengan polisi saat ini, kemungkinan dalang dari aksi premanisme itu bukan digerakkan oleh orang biasa! agak kuatir masalah ini bakal tenggelam," komentar akun @aeeman77.
"Negara ini sudah menuju autokrat yang menjadikan lembaga negara sebagai senjata politik, oposisi diperlakukan layaknya sebagai penjahat, rezim telah melewati batas dan memasuki kediktatoran. Jangan pernah berhenti untuk mengkritisi pemerintahan, karena kita harapan terakhir bagi demokrasi yang berkeadilan," komentar akun @sufisijawara.
Sementara itu, polisi telah menangkap pelaku kekerasan dan menetapkan 2 tersangka pada pembubaran diskusi FTA.
Kedua pelaku diketahui adalah Fhelick E Kalawali (FEE) yang merupakan koordinasi lapangan dari aksi anarkis dan Godlib Wabano (GW) yang ikut merusak acara diskusi FTA dalam hotel di kawasan Kemang.
Tak hanya itu, polisi juga mengamankan tiga pelaku lainnya yang terlibat aksi kekerasan di antaranya JJ, EW dan MDM dan kini masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!