SketsaNusantara.id - Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, maka hanya ada satu kata: lawan!.
Potongan puisi di atas tentu tak asing bagi sebagian masyarakat terutama para aktivis.
Penggalan bait dalam puisi di atas adalah karya Wiji Thukul berjudul Peringatan atau sering disebut sebagai puisi Lawan.
Sosok Wiji Thukul sebagai seniman sekaligus aktivis zaman Orde Baru cukup melegenda.
Banyak penggalan-penggalan puisinya yang kerap dijadikan pembakar semangat bagi para muda-mudi.
Sayang, keberadaan Wiji Thukul masih terus jadi misteri selama 26 tahun terakhir.
Hingga saat ini, pertanyaan di mana Wiji Thukul atau di mana Wiji Thukul berada menjadi misteri bagi keluarga.
Sebelumnya, Wiji Thukul sempat menjadi buron usai peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan nama Kudatuli.
Sejak saat itu, Wiji Thukul kerap berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya.
Selama pelariannya, pria kelahiran Solo 26 Agustus 1963 ini bersembunyi di rumah sahabat atau kenalan yang ia percaya.