Maam Yuli menjadi orang nomor satu yang mendukungnya untuk meneruskan pendidikannya di Institut Seni Indonesia (ISI) kala itu. Namun ternyata kesempatan itu belum ada di pihaknya.
"Pada waktu aku gagal masuk ISI, aku berada di titik stop menggambar dan melukis dan fokus untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan memilih untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Jember," jelasnya.
Pasca dinyatakan lolos menjadi mahasiswa Universitas Jember, Anon kembali menemui gurunya meski ia bukan lagi siswa SMA.
"Setiap aku main ke rumahnya pasti ada agenda menggambar di depan rumah. Di situ aku ikut gambar, aku gambar lagi," ungkapnya.
"Waktu aku mau pulang, dia bilang sesuatu yang akan membekas ke aku sampai kapanpun. 'Tetep nggambar ya Nin'," jelasnya.
Bahkan kata Anon, gurunya tersebut berencana akan hadir dalam pamerannya suatu saat nanti.
Namun takdir berkata lain. Di tahun 2024 ini, guru Bahasa Inggris yang memiliki peran penting di hidupnya berpulang ke pangkuan sang pencipta. Sebelum berhasil melihat anak didiknya melangsungkan pameran.
"Aku sudah menjanjikan Maam Yuli untuk dateng ke pameranku," kenang Anon.
Saat berkunjung ke peristirahatan terakhir sang guru, Anon tak meneteskan air mata, ia telah menangis lebih dulu tepat setelah mendengar kabar kepergian gurunya.
"Waktu liat ke bawah (makam), aku tenang. Maam Yuli sudah tenang di sana, sudah cukup di hidup ini, apalagi di hidupku,"
Ia pun mempersembahkan lukisan tangan tersebut untuk gurunya. 'Tetep nggambar ya Nin', nama lukisan yang ia ambil dari ucapan sang guru.
Warna lukisan hijau, dikatakan Anon, menggambarkan daun yang ada di makam, simbol dua tangan pada lukisan tersebut merupakan tangannya dan tangan gurunya.