news

Isi Sejarah NU yang Dibelokkan Buku-Buku Pelajaran, Gus Yahya: Tiba-Tiba Ada Narasi Baru

Senin, 29 Juli 2024 | 09:37 WIB
Gus Yahya menyampaikan ada sejarah NU yang dibelokkan dalam buku-buku pelajaran. (Tangkap layar Youtube TVNU)

SketsaNusantara.id - KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab dipanggil Gus Yahya menyampaikan adanya temuan masyarakat terkait sejarah Nahdlatul Ulama (NU) yang menyimpang.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) NU itu menyebut adanya laporan dari warga mengenai sejarah tentang NU yang disebarluaskan melalui bahan ajar di sekolah-sekolah.

Hal itu disampaikan dalam konferensi pers rapat pleno PBNU yang diselenggarakan Minggu, 28 Juli 2024.

Baca Juga: Kembangkan Pesantren Milik Ayah Mertuanya, Kyai di Krapyak Ini Jadi Pencetus dan Pengawal Khitah NU

"Yang kami temukan dari laporan masyarakat dan warga misalnya ada buku yang memuat tentang cerita menyimpang tentang proses berdirinya NU," kata Gus Yahya kepada awak media.

Menurut keterangan Gus Yahya, ada narasi baru yang dimasukkan dan berbeda dari sejarah pendirian organisasi yang digagas dan dibentuk dengan melibatkan sejumlah ulama Nusantara seperti KH Hasyim Asy'ari dan Syaikhona Kholil Bangkalan.

"Karena yang sudah diketahui banyak orang adalah NU dibentuk melalui proses panjang melibatkan sejumlah kyai. Tiba-tiba ada narasi baru dengan memasukkan cerita baru bahwa ini ada proses yang berbeda dari yang itu," lanjut Gus Yahya.

Baca Juga: 4 Kyai yang Menolak Seikerei Zaman Jepang hingga Ditangkap dan Disiksa, Ada Ayah Buya Hamka hingga Ulama NU

Ia juga menyebut bahwa narasi yang menyimpang itu memasukkan tokoh-tokoh baru. Hal itu menjadi kewajiban bagi PBNU untuk mengoreksi dan meluruskannya.

"Kemudian memasukkan tokoh-tokoh baru, itu yang kami anggap menyimpang. Itu yang harus dikoreksi dan menjadi kewajiban PBNU untuk meluruskan," ujarnya.

Gus Yahya juga mengatakan bahwa materi-materi menyimpang itu harus segera ditarik dari peredaran.

Materi-materi bahan ajar yang menyimpang itu tidak boleh dipakai di lembaga pendidikan NU.

Pasalnya, beredarnya materi-materi tersebut hanya akan mengaburkan sejarah berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia.

PBNU juga telah menginstruksikan lembaga pendidikan Rabithah Ma'ahid al Islamiyah atau asosiasi pesantren-pesantren agar segera mengadakan penelitian.***

Halaman:

Tags

Terkini