Setelah melahirkan, Rasa Wulan menyerahkan bayinya kepada Syekh Maulana Maghribi.
Bayi tersebut diberi nama Kidang Telangkas.
Syekh Maulana yang sebelumnya melepaskan kemaluannya melihat kemaluannya berubah menjadi mata tombak yang kemudian dinamai Kanjeng Kyai Pleret.
Tombak ini diwariskan turun-temurun kepada raja-raja Jawa.
Pusaka Kyai Pleret diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari Kidang Telangkas hingga raja-raja Mataram.
Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam, pernah menggunakan tombak ini untuk mengalahkan Arya Penangsang dalam pertempuran penting.
Kini, tombak Kyai Pleret disimpan rapi sebagai salah satu benda pusaka milik Keraton Yogyakarta.
Kisah ini mengajarkan kita untuk berani bertanggung jawab atas perbuatan kita dan menghormati perintah orang tua.
Tombak Kyai Pleret bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai kebijaksanaan dan keberanian.***