1. Representasi NU
Gus Nadir mengaku telah menghubungi salah satu dari 5 aktivis yang bertemu dengan Presiden Israel.
Menurut rekan tersebut, kunjungan itu bersifat pribadi, bukan atas nama NU.
Gus Nadir pun mementahkan alasan tersebut. Pasalnya, mereka bukanlah siapa-siapa tanpa label NU.
"Saya sudah tabayun dg salah satunya via wa. Pengakuannya, undangan diatur lewat jaringan alumni Har^*rd, dan berkenaan dg akademik dan start up. Dan ini diklaim sebagai kunjungan pribadi, bukan atas nama NU," tulis Gus Nadir.
Baca Juga: Layangkan 9 Surat Perbaikan, Bawaslu Kabupaten Blitar Beberkan Hasil Uji Petik Coklit
Gus Nadir menjelaskan jika cuma “aktivis dan cendekiawan” saja pihaknya yakin tidak akan masuk radar Israel. Apalagi sampai bertemu dengan Presiden.
"Tanpa NU mereka bukan siapa2 dan gak bakal masuk radar Israel," jelasnya.
2. Jauh dari Prinsip NU
Gus Nadir menjelaskan, NU bertindak tidak hanya atas pilar tasamuh (toleransi) dan tawasuth (moderasi), tetapi juga tawazun dan i’tidal.
"Tawazun artinya seimbang. Itu sebabnya mereka saat mendapat undangan harus menimbang banyak hal terlebih dahulu, termasuk geo politik dan konflik yg terjadi saat ini," jelas Prof Nadir.
Masih menurut Gus Nadir, pertimbangan keputusan itu juga termasuk I’tidal yang berarti tegak lurus pada aturan main, keadilan dan kebenaran.
Dalam hal ini Gus Nadir menjelaskan bagaimana Mahkamah Internasional sudah bersikap. Begitu juga kebijakan pemerintah RI yang mengecam tindakan Israel.