Safari mengklaim bahwa perjanjian tersebut masih berlaku dan Union Bank of Switzerland (UBS) bertanggung jawab mengelola aset emas Soekarno.
Selain klaim dalam buku Safari, ada juga kisah kontroversial tentang SwissIndo, sebuah organisasi yang mengaku memiliki akses ke harta karun Soekarno dan berjanji menghapus semua utang orang Indonesia.
Namun, pada 2017, SwissIndo terbukti melakukan penipuan, mengiming-imingi calon korban dengan dana besar untuk melunasi utang mereka dengan syarat membayar uang administrasi terlebih dahulu.
Penipuan ini memiliki ratusan korban di berbagai daerah di Indonesia.
Namun, klaim tentang harta karun Soekarno sering kali dipertanyakan kebenarannya.
Peneliti BRIN, Asvi Warman Adam, menegaskan bahwa The Green Hilton Memorial Agreement adalah hoaks.
Ia menunjukkan bahwa cap stempel pada dokumen tersebut tidak sesuai dengan stempel resmi Presiden Indonesia.
Baca Juga: Jokowi Paling Istimewa? Inilah 5 Kado Rumah Pensiun Presiden dari Negara untuk Para Pemimpin Bangsa
Selain itu, tidak ada dokumen resmi dari AS yang mendukung klaim tersebut.
Bahkan, putra Soekarno, Guntur Soekarnoputra, menyatakan bahwa ia tidak pernah mendengar ayahnya memiliki kekayaan luar biasa besar yang tersembunyi di suatu tempat.
Lalu, mengapa mitos harta karun Soekarno tetap bertahan?
Profesor psikologi Brian Cronk dari Missouri Western State University menjelaskan bahwa manusia cenderung mempercayai sesuatu tanpa alasan jelas, terutama ketika dihadapkan pada ketidakpastian.