Minggu, 19 Juli 2026

Kisah Harta Karun Presiden Soekarno yang Penuh Kontroversi, Ada Hubungannya dengan Amerika Serikat?

Photo Author
Fadillah Nuzulul Rahman, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 Juli 2024 | 13:45 WIB
Kontroversi harta karun Soekarno dan hubungannya dengan Amerika Serikat.   (X @AgilRSapoetra)
Kontroversi harta karun Soekarno dan hubungannya dengan Amerika Serikat. (X @AgilRSapoetra)

SketsaNusantara.id - Kisah harta karun Presiden Soekarno telah lama memicu kontroversi dan rasa penasaran.

Paling tidak, popularitasnya dimulai dari buku "Harta Amanah Soekarno" karya Safari ANS.

Dalam bukunya, Safari mengungkapkan hasil penelitiannya selama 10 tahun yang menyebut bahwa Soekarno menyerahkan 57 ribu ton emas kepada Amerika Serikat sebagai “rampasan perang”.

Baca Juga: Soroti Wawancara Polda Sumbar dengan Keluarga Mendiang Afif Maulana, Netizen: Harus Lapor Siapa?

Transaksi ini, katanya, dilakukan melalui perjanjian yang disebut The Green Hilton Memorial Agreement.

Ditandatangani pada 14 November 1963 oleh Soekarno dan Presiden AS John F. Kennedy, dengan saksi dari Swiss bernama William Vouker, seperti dilansir dari kanal YouTube PinterPolitik TV.

Safari yakin bahwa kekayaan tersebut masih bisa dicairkan oleh pemerintah Indonesia hingga kini.

Baca Juga: Ditangkap di Indonesia Karena Selundupkan 3 Satwa Langka, Simak Profil Raama Mehra

Safari juga menjelaskan konteks perjanjian ini. Pada waktu itu, Presiden Kennedy sedang berseteru dengan Bank Sentral AS, The Fed, yang mencetak mata uang dolar sendiri.

Kennedy, yang marah, memerintahkan Departemen Keuangan AS untuk mencetak mata uang sendiri juga.

Di sinilah Soekarno, atas nasihat mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Agus Salim, melobi Kennedy untuk meredakan ketegangan dengan menawarkan emas Indonesia.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Bandingkan Soekarno dengan Pemimpin Saat Ini, Lebih Utamakan Keluarga daripada Rakyat, Sindir Politik Dinasti Jokowi?

Perjanjian ini seharusnya berlaku hingga 14 November 1965.

Sayangnya, Kennedy ditembak mati sembilan hari setelah penandatanganan, dan Soekarno dikudeta pada 30 September 1965, sebelum jatuh tempo perjanjian.

Halaman:

Editor: Rizqillah

Sumber: YouTube Pinter Politik TV

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X