"Masyarakat dan Pemdanya tidak proaktif memberi sanksi pada para pelaku, contohnya seperti Teyeng Wakatobi yang saat ini masih belum bisa terlacak pihak yang berwajib," imbuhnya.
"Kepercayaan tercipta karena tindakan nyata, bukan karena deklarasi," pungkas akun @PartaiSocmed.
Sejumlah netizen juga sepakat dengan pernyataan akun Twitter @PartaiSocmed. Warganet mengungkapkan kekecewaan dan menilai masyarakat hanya bereaksi saat kasus ini viral.
"Dengan berat hati saya pikir hampir semua orang di sekitar kampung itu sudah tahu, aparat tahu, tapi seperti malah acuh dan memaklumi kejahatan dan acuh," komentar akun @Md_zygitt.
"Mereka hanya bereaksi saat viral dan banyak orang mulai menyoroti kasus ini. Mungkin dengan adanya sorotan ini bisa jadi jalan keluar agar kampung maling ini bisa "sembuh" dan gak terulang peristiwa serupa di kemudian hari," imbuh akun @Mzsidiq_.
"Bagaimana kami harus percaya? Sudah banyak kasus dulu-dulu tapi gak terungkap, kalo ga viral gak keusut sampai tuntas! lagian kenapa Pati Cinta Damai? memang lagi perang??" sindir akun @Hari_canEllo.
Hingga saat ini, seruan Pati Cinta Damai masih terus digaungkan di media sosial. Beberapa tokoh termasuk petani, pedagang, PNS, guru hingga selebgram dan konten kreator ramai-ramai mengunggah video deklarasi Pati Cinta Damai.
Tak hanya menyatakan deklarasi Pati Cinta Damai, masyarakat juga mendukung Kepolisian RI untuk mengusut tuntas masalah yang ada di kabupaten Pati agar wilayah mereka bisa kembali pulih seperti semula.***