SketsaNusantara.id - Semburan lumpur yang muncul di kawasan Oro-Oro Kesongo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, belakangan menjadi perhatian publik.
Video yang memperlihatkan lumpur menyembur tinggi dari sebuah tanah lapang beredar di media sosial dan membuat sebagian warga khawatir fenomena tersebut akan meluas seperti semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Semburan di Oro-Oro Kesongo diketahui muncul sejak Jumat, 7 Agustus 2026. Fenomena tersebut kemudian menjadi sorotan karena secara kasat mata memperlihatkan material lumpur yang bergejolak setinggi lebih dari 1 meter dan keluar dari dalam tanah dengan tekanan cukup kuat.
Semburan lumpur tersebut menuai perhatian dari berbagai pihak. Di tengah kekhawatiran mengenai kemungkinan munculnya "Lapindo kedua" di Jawa Tengah, pakar geografi dan kebencanaan, Dr. Daryono, S.Si, M.Si, akhirnya ikut memberikan penjelasan.
Melalui unggahan di akun Instagram nya, mantan direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG itu menjelaskan bahwa fenomena di Oro-Oro Kesongo merupakan fenomena gunung lumpur atau mud volcano yang bersifat periodik.
Semburan lumpur di Blora memiliki karakteristik yang berbeda dengan peristiwa Lumpur Lapindo di Sidoarjo dan diperkirakan akan mereda dengan sendirinya.
"Bukan Lapindo kedua, fenomena semburan lumpur di Oro-Oro Kesongo, Blora, merupakan gunung lumpur (mud volcano) alami, yang terjadi saat penumpukan gas di dalam lapisan sedimen bumi terlepas ke permukaan melalui retakan batuan," ujarnya yang disampaikan melalui unggahan di akun Instagram @daryono_edukator_kebencanaan, sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id pada hari Senin, 10 Agustus 2026.
"Berbeda dengan kasus Lumpur Lapindo Sidoarjo yang menyembur tanpa henti akibat tekanan hidrotermal raksasa, letupan Kesongo yang tingginya bisa mencapai puluhan meter ini bersifat periodik," tuturnya.
Dalam unggahannya, Daryono menegaskan bahwa semburan di Oro-Oro Kesongo juga tidak berkaitan dengan bekas aktivitas pengeboran minyak dan gas.
"Fenomena tersebut terjadi ketika akumulasi gas dan fluida bertekanan dari lapisan sedimen bawah permukaan bumi mencari jalan keluar menuju permukaan melalui retakan atau jalur lemah pada batuan," jelasnya.
"Sama sekali tidak berhubungan dengan aktivitas magma gunung berapi ataupun bekas pengeboran minyak, dan gunung lumpur di Kesongo ini akan mereda dengan sendirinya begitu akumulasi tekanan gasnya habis," lanjutnya.