Secara geologi, kawasan Blora memang berada di wilayah yang memiliki sistem cekungan hidrokarbon. Kondisi tersebut memungkinkan adanya akumulasi gas alam di bawah permukaan yang sewaktu-waktu dapat mengalami pelepasan tekanan.
Fenomena serupa juga pernah terjadi. Para ahli mencatat semburan lumpur serupa pernah dilaporkan terjadi pada bulan Agustus 2020 lalu dan bersifat periodik yang kemudian mereda dengan sendirinya.
Menurut Daryono, semburan di Blora bersifat periodik dan sesaat. Letupan terjadi ketika tekanan gas bawah tanah mencapai kondisi tertentu, kemudian berangsur mereda setelah tekanan tersebut dilepaskan.
Artinya, semburan tidak berlangsung secara terus-menerus dalam skala besar, tidak seperti yang terjadi di Sidoarjo.
Meski begitu, Daryono menghimbau warga sekitar untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya yang ditimbulkan semburan lumpur tersebut.
"Semburan ini akan mereda dengan sendirinya begitu akumulasi tekanan gasnya habis. Artinya, area pemukiman warga tergolong aman dari ancaman tenggelam," ujarnya.
"Namun lokasi sekitar kawah tetap memiliki potensi bahaya local, seperti sebaran gas metana dan potensi tanah ambles, sehingga warga serta pengunjung wajib menjaga jarak aman dan mematuhi imbauan petugas demi keselamatan," pesannya.
Daryono mengingatkan adanya potensi paparan gas, termasuk gas metana dan hidrogen sulfida (H₂S), serta kemungkinan terjadinya tanah ambles di sekitar lokasi.
Gas yang keluar dari kawasan mud volcano juga perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan risiko apabila terhirup dalam kondisi dan konsentrasi tertentu.
Fenomena mud volcano sendiri memang dikenal dapat membawa gas hidrokarbon seperti metana ke permukaan sehingga masyarakat sekitar dihimbau untuk tidak berada di sekitar pusat letupan meski hanya untuk melihat atau merekam semburan lumpur dari jarak dekat.
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengumpulkan informasi dari lapangan untuk mempelajari fenomena tersebut sebelum menarik kesimpulan lebih lanjut mengenai kondisi dan tingkat bahayanya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Detik-Detik Munculnya Semburan Air Setinggi Belasan Meter Bikin Heboh Warga Sampang Madura, Diduga Mengandung Gas?
Ternyata Semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo Bukan yang Pertama Terjadi! Didokumentasikan Belanda sejak 1931
Heboh Semburan Gas Misterius Muncul Sungai Kebon Agung Rungkut Surabaya, Pakar Geologi ITS Sebut Fenomena Ini Bukan Aktivitas Alam, Apa Penyebabnya?
Apa Bedanya dengan LPG? Bahlil Usulkan CNG Jadi Pengganti Gas Elpiji yang Diklaim Lebih Murah, Ini Kelebihan dan Keamanan untuk Kebutuhan Rumah Tangga
Kementerian ESDM Siapkan Gas Pengganti LPG, Ternyata Sudah Banyak Negara yang Menggunakan Bahan Bakar CNG, Benarkah Lebih Ramah Lingkungan?
Belajar dari Tragedi Kematian 1 Keluarga di Wisata Posong, Berikut Cara Mewaspadai Gas Mematikan Saat Berkemah dan Cara Aman Masak Pakai Gas Portable