Tiyo sendiri menilai gerakan mahasiswa seharusnya lahir dari kajian akademik, data, serta keresahan masyarakat, bukan sekadar membangun narasi yang berujung pada serangan personal terhadap individu tertentu.
Ia berharap perdebatan yang terjadi tidak mengaburkan fungsi utama mahasiswa sebagai kelompok kritis yang mengawal berbagai kebijakan publik demi kepentingan masyarakat luas.
"Ini bukan lagi sekadar perbedaan opini di kalangan mahasiswa, melainkan indikasi kuat dari gerakan artifisial yang dikondisikan oleh elite tertentu demi menciptakan ilusi konflik horizontal di akar rumput. Ketika mahasiswa sibuk dibenturkan dengan mahasiswa, siapa yang paling diuntungkan?" pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini