SketsaNusantara.id - Salah satu dugaan penyebab tragedi kematian 4 orang dari 1 keluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang di dalam tenda glamping wisata Posong Temanggung adalah keracunan gas monoksida.
Diduga akumulasi masuknya gas monoksida ke dalam tenda yang tak bisa dibuang dengan sempurna bisa menjadi salah satu penyebab 1 keluarga tersebut tewas.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti kematian korban melalui uji laboratorium forensik, dengan 2 dugaan kuat yakni keracunan makanan atau keracunan gas monoksida akibat aktivitas memasak di area tenda.
Salah satu potensi bahaya yang sering luput dari perhatian para pencinta alam atau pelaku camping adalah penempatan alat masak gas portable.
Memasak terlalu dekat dengan pintu tenda atau bahkan di dalam tenda yang ventilasinya buruk ternyata dapat memicu penumpukan gas beracun yang tidak berbau namun mematikan.
Lalu bagaimana bahaya ini bisa terjadi dan bagaimana seharusnya cara memasak yang benar serta aman menggunakan gas saat berkemah?
Baca Juga: Unik dan Ramah Lingkungan, PMI Jember Kemas Daging Kurban Idul Adha dengan Besek Bambu
Dikutip dari laman Mountaineering : The Freedom of The Hills, saat kita memasak menggunakan kompor gas portable, proses pembakaran bahan bakar membutuhkan oksigen yang cukup.
Ketika proses pembakaran terjadi di ruang tertutup, tersumbat, atau di dekat pintu tenda yang sirkulasi udaranya tidak mengalir bebas, dua risiko fatal ini bisa terjadi.
Pertama, akumulasi Karbon Monoksida (CO), yakni pembakaran yang kekurangan oksigen akan menghasilkan gas karbon monoksida.
Baca Juga: Kakak Kandung Anang Hermansyah Resmi Pimpin UDD PMI Jember, Fokus Kejar Sertifikasi CPOB BPOM
Gas ini tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa sehingga ketika terhirup, CO akan mengikat hemoglobin dalam darah jauh lebih kuat daripada oksigen, menyebabkan tubuh kekurangan oksigen secara perlahan hingga korban tidak sadarkan diri dan meninggal dunia.
Kedua, kebocoran Gas Unburnt (LPG/Butana), yakni jika api kompor tidak sengaja padam karena tertiup angin kecil namun knop gas tetap terbuka, gas butana/propana akan memenuhi area bawah tenda karena sifat massanya yang lebih berat dari udara, memicu risiko keracunan atau kebakaran.