news

KUR BRI Antar Batik New Colet Jombang Tembus Pasar Nasional

Kamis, 28 Mei 2026 | 11:05 WIB
Pekerja di galeri Batik New Colet Jombang sedang menyelesaikan proses penulisan motif. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)



SketsaNusantara.id - ‎Semangat pantang menyerah serta ketekunan ditunjukkan Sutrisno (58), seorang perajin batik asal Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Melalui unit usaha bernama Batik New Colet, ia membuktikan bahwa sentuhan modal yang tepat dapat mengubah usaha mikro menjadi bisnis yang berdaya saing tinggi hingga ke luar kota.

‎Kesuksesan ini tidak lepas dari dukungan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI Unit Perak. Sutrisno mengakui bahwa fasilitas pinjaman tersebut menjadi stimulan utama dalam memacu produktivitas galerinya.

"Pinjaman KUR BRI sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan alat produksi. Berkat dukungan ini, kami bisa konsisten menjaga kualitas dan stok," ujar Pak Sutris, sapaan akrabnya, saat ditemui di rumah produksinya, awal pekan ini.

Baca Juga: Makna Tersembunyi Batik Kawung yang Dipakai Tokoh Semar, Filosofinya Ternyata Berkaitan dengan Pengendalian Diri

‎‎Pak Sutris mengatakan, Batik New Colet fokus pada produksi batik tulis dan batik cap dengan rentang harga yang variatif, mulai dari Rp130.000 hingga Rp2.000.000 per potong. Meski diproduksi di Jombang, pemasaran produk ini justru didominasi oleh pesanan melalui daring internet dari pelanggan luar kota.
‎‎
‎Kini, dari ketekunan usaha tersebut, Pak Sutris mampu meraup omset kotor berkisar antara Rp15 juta hingga Rp25 juta per bulan. Keberhasilan finansial ini membawa dampak nyata bagi kesejahteraan keluarga Pak Sutrisno; ia berhasil membiayai pendidikan kedua anaknya hingga lulus bangku perkuliahan.

Usaha yang dirintis 18 tahun silam itu juga berdampak positif bagi perekonomian sebagian tetangga Pak Sutris. 10 hingga 15 orang, tetangga Pak Sutris ikut berkecimpung proses persiapan bahan baku batik sampai berupa lembaran kain siap berada di tangan para pemesan. 

Baca Juga: Di Balik Batik Tulis Keraton Mataram, Desa Giriloyo Menjaga Tradisi Membatik Turun Temurun sejak Abad 17

"Kebanyakan para ibu. Yang laki-laki, lebih fokus pada pekerjaan persiapan bahan baku dan operator mesin. Mereka yang bekerja tidak pasti, tergantung permintaan pasar. Antara sepuluh sampai lima belas orang," ucap bapak 2 anak ini.

Tidak sekadar mencari keuntungan, galeri Batik New Colet kini bertransformasi menjadi pusat edukasi. Lokasinya kerap didatangi oleh komunitas UMKM, mahasiswa, hingga kelompok pemberdayaan ekonomi. Para pengunjung itu belajar mengenai proses produksi batik sekaligus manajemen usaha.

‎‎Dukungan BRI melalui KUR tidak hanya memberikan akses permodalan bagi Sutrisno, tetapi juga menciptakan efek domino bagi ekosistem UMKM di Jombang. Kisah Batik New Colet menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara kerja keras pelaku usaha dan kemudahan akses keuangan dari perbankan dapat menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Juga: BRI Bahas Peran UMKM dalam Keuangan Berkelanjutan pada Negara Berkembang dalam Global Forum WEF Davos 2026

Dimuat pada media ini, Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan komitmen perusahaan terhadap sektor UMKM. BRI disebut konsisten mendukung program prioritas pemerintah. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembiayaan berkelanjutan.

BRI, tegas dia, terus berupaya mendorong pertumbuhan sektor UMKM agar tetap sehat dan berkelanjutan sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

"BRI pun menyalurkan pembiayaan KUR disertai dengan pendampingan, sehingga pelaku usaha tidak hanya memperoleh akses permodalan, tetapi juga kapasitas usaha yang semakin kuat sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Akhmad Purwakajaya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Tags

Terkini