SketsaNusantara.id - Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh sebuah unggahan viral yang memicu gelombang kritik dari warganet. Konten tersebut diduga berasal dari seorang pengguna Instagram yang disebut-sebut sebagai anak dari oknum perwira kepolisian di Semarang, Jawa Tengah. Aksi yang dilakukan dinilai tidak hanya kontroversial, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial.
Perbincangan ramai bermula dari unggahan akun di platform Instagram dengan nama pengguna @redblood, yang membuat konten berupa ajakan lomba komentar bernuansa rasis. Dalam unggahannya, pemilik akun menawarkan hadiah uang sebesar Rp100 ribu bagi komentar yang dianggap paling rasis.
Konten tersebut kemudian menyebar luas setelah diunggah ulang oleh sejumlah akun di platform X, salah satunya akun @Heraloebss. Dalam waktu singkat, unggahan itu menarik perhatian ribuan pengguna dan memicu lebih dari seribu komentar, sebagian di antaranya mengandung ujaran bernada diskriminatif, termasuk yang menyinggung kelompok etnis tertentu di Indonesia.
Baca Juga: Menu MBG Perdana di Salah Satu MI di Pasuruan “Garingan” Tanpa Sayur
Fenomena ini menuai kecaman luas karena dinilai melanggar norma sosial dan berpotensi menyulut sentimen SARA. Banyak pihak menilai tindakan tersebut tidak pantas, terlebih dilakukan di ruang publik digital yang dapat diakses oleh siapa saja.
Yang membuat situasi semakin memanas, pemilik akun tersebut justru menunjukkan sikap tidak kooperatif. Dalam sebuah video yang beredar, ia mengaku tidak takut jika dilaporkan ke pihak berwajib. Bahkan, ia menyebut memiliki “perlindungan” karena kedua orang tuanya merupakan anggota kepolisian dengan pangkat tinggi.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai sikap tersebut mencerminkan arogansi dan merusak kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Dugaan keterlibatan keluarga dari kalangan aparat juga menjadi sorotan tajam di ruang publik.
Dalam narasi yang beredar di media sosial, akun tersebut dikaitkan dengan seorang anak dari oknum perwira di wilayah Semarang, tepatnya di lingkungan kepolisian setempat. Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang terkait identitas maupun kebenaran klaim tersebut.
Gelombang kritik terus mengalir di berbagai platform. Sejumlah pengguna media sosial mengecam keras aksi tersebut dan mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengambil tindakan. Mereka menilai bahwa perilaku yang mengandung unsur rasisme tidak boleh dibiarkan, apalagi jika disertai dengan klaim kebal hukum.
Beberapa komentar warganet menyoroti pentingnya penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu. Mereka juga menekankan bahwa viralnya kasus ini menjadi bukti bahwa masyarakat semakin kritis terhadap isu diskriminasi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya etika dalam bermedia sosial. Di era digital, setiap unggahan memiliki dampak luas dan dapat memengaruhi persepsi publik secara signifikan. Oleh karena itu, tanggung jawab dalam menggunakan platform digital menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Hingga saat ini, publik masih menunggu langkah tegas dari aparat terkait untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Penanganan yang transparan dan adil diharapkan dapat menjaga kepercayaan masyarakat serta menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di atas hukum.***