SketsaNusantara.id - Nama Widiyanti Putri Wardhana menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah muncul tudingan dirinya mengenakan sepatu saat berada di dalam masjid. Isu ini mencuat seiring beredarnya video kunjungan kerja sang menteri ke Sumatera Barat yang kemudian memicu beragam reaksi dari publik.
Kunjungan tersebut diketahui merupakan bagian dari agenda kerja Kementerian Pariwisata, di mana Widiyanti mengunjungi salah satu ikon religi di daerah tersebut, yakni Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Masjid ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi sekaligus pusat kegiatan keagamaan di Sumatera Barat.
Kontroversi bermula dari unggahan video yang beredar di media sosial, salah satunya dibagikan oleh akun bernama Koran Nusantara. Dalam narasinya, disebutkan bahwa Widiyanti memasuki area masjid dengan masih mengenakan sepatu, yang kemudian dianggap melanggar etika dan norma di tempat ibadah.
Narasi tersebut dengan cepat menyebar dan memicu kritik dari sejumlah warganet. Tidak sedikit yang menyayangkan jika benar seorang pejabat publik melakukan tindakan yang dianggap tidak menghormati kesucian tempat ibadah.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Dalam video lain yang diunggah oleh akun Instagram @derisnagara, terlihat jelas bahwa Widiyanti telah melepas sepatu sebelum memasuki area dalam masjid. Momen tersebut memperlihatkan dirinya mengikuti prosedur umum yang berlaku bagi setiap pengunjung.
Setelah melepas sepatu, Widiyanti tampak mengenakan kaos kaki khusus. Kaos kaki tersebut memiliki bentuk dan desain yang menyerupai sepatu, sehingga sekilas dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi yang melihatnya tanpa konteks lengkap. Jenis kaos kaki yang digunakan diketahui merupakan kaos kaki khusus untuk aktivitas seperti yoga atau olahraga ringan lainnya.
Kemiripan bentuk itulah yang kemudian diduga menjadi sumber kesalahpahaman. Dalam potongan video yang beredar tanpa penjelasan utuh, kaos kaki tersebut terlihat seperti alas kaki biasa, sehingga memicu asumsi yang kurang tepat.
Menanggapi polemik ini, sejumlah pihak mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Verifikasi terhadap sumber dan keutuhan video menjadi hal penting sebelum menarik kesimpulan atau menyebarkan ulang informasi tersebut.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya literasi digital di tengah arus informasi yang begitu cepat. Potongan video yang tidak utuh atau narasi yang tidak lengkap berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang merugikan pihak tertentu.
Sebagai pejabat publik, Widiyanti tentu berada dalam sorotan masyarakat. Namun demikian, akurasi informasi tetap harus menjadi prioritas agar tidak terjadi pembentukan opini yang keliru.
Hingga saat ini, tidak ditemukan bukti valid yang menunjukkan bahwa Widiyanti mengenakan sepatu di dalam masjid sebagaimana yang dituduhkan. Klarifikasi visual dari berbagai sumber justru memperlihatkan bahwa ia telah mengikuti aturan yang berlaku.