“Aku nggak tau aku di gerbong berapa, tiba-tiba aku jatoh ke kiri, keseret sampe pipi aku beset (lecet-red),” lanjutnya.
Tidak hanya pipinya yang lecet, 3 jari kakinya juga ikut terbanting hingga badannya terjatuh dan ikut terseret.
“3 jari aku kebanting aspal KRL sampai badan aku sendiri nggak bisa nahan dan ikut kegeret,” sambungnya.
Sebelumnya, korban sempat mendengar ada laki-laki berteriak menyuruhnya keluar dari dalam KRL.
“Aku cuma inget sebelum kebanting ada mas-mas teriak ‘Woi keluar!’,” ingatnya.
Bunyi ledakan yang entah dari mana dan lampu KRL yang tiba-tiba gelap akhirnya menyadarkan para penumpang.
“Semua orang belum sadar sampai bunyi ledakan lampu dan gelap,” jelasnya.
Dengan tubuh yang remuk redam akibat terbanting, korban mencoba untuk bangun sebisa mungkin.
“Aku coba bangun meski susah, aku cuma makasih nggak ada yang injek aku yang udah bener-bener tiduran di lantai,” kenangnya.
Kondisi kereta yang gelap dan KRL yang masih terseret akibat tertabrak membuat korban awlanya hanya pasrah.
“Kondisi udah gelap banget, di kepalaku isinya cuma nggak tau ini kereta bakalan keseret sampe mana,” ujarnya.
Namun akhirnya, korban mencoba untuk bangun meski terasa sangat sulit dan salah sepatunya hilang.
“Sampai akhirnya aku coba ambil HP yang ikut kebanting untung masih kejangkau, dan coba bangun, aku coba nggak panik, tapi tetep aku nggak bisa nemu sepatuku karena gelap banget,” katanya.
Akhirnya korban berhasil keluar setelah mencoba meraih pintu gerbong. Sampai di luar KRL, kepulan asap dan debu sudah memenuhi stasiun.
“Aku coba keluar, mukjizat! Pintu gerbong aku pas depan tangga, aku lari ke tangga, dan aku lihat ada asap atau debu udah lekat banget sampe bikin napas sesak,” lanjutnya.