Seperti yang telah kita ketahui, zona waktu di luar angkasa sangat berbeda dengan di bumi karena beberapa faktor.
Setelah berbulan-bulan berdiskusi, Dewan Fatwa Nasional Islam Menyusun pedoman bagaimana seorang astronot tetap bisa melaksanakan sholat meski sedang berada di luar angkasa.
Aturan tersebut diterbitkan dalam buku setebal 12 halaman berjudul ‘Kewajiban Muslim di Stasiun Luar Angkasa Internasional’.
Jika sedang berada di dalam bumi, seorang Muslim diwajibkan untuk melaksanakan sholat sebanyak 5 kali sehari dan menghadap ke arah kiblat (Makkah).
Namun, dengan kondisi stasiun luar angkasa yang mengelilingi bumi sebanyak 16 kali dalam sehari, mendirikan sholat dalam kondisi tanpa gravitasi tentu akan sulit untuk dilakukan.
Apa lagi jika dihitung mengikuti perputaran stasiun luar angkasa yang sebanyak 16 kali mengitari bumi dalam 24 jam, astronot diharuskan melaksanakan sholat sebanyak 80 kali dalam sehari.
Selain itu, stasiun luar angkasa yang terus berputar dan menghadap ke arah yang berbeda-beda juga menyulitkan astronot untuk menentukan arah kiblat.
Dewan Fatwa Nasional Malaysia memutuskan bahwa astronot Muslim tidak diwajibkan untuk berlutut saat sholat jika kondisi gravitasi tidak memungkinkan.
Sedangkan menghadap ke arah kiblat atau Makkah saat sholat bisa disesuaikan sesuai dengan kemampuan terbaik sang astronot.
Tidak hanya sholat, ritual ibadah puasa di bulan Ramadhan juga menjadi perhatian khusus karena seorang Muslim diwajibkan berpuasa dari fajar hingga senja.
Sehingga, fatwa tersebut memutuskan bahwa puasa tersebut dapat ditunda hingga sang astronot kembali ke bumi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!