Sebelum menjadi seorang pengusaha, Samin Tan pernah bekerja di beberapa kantor akuntan publik.
Setelah berhenti kuliah, ia memutuskan untuk bergabung di kantor akuntan public Peat Marwick.
Kerja keras serta ketekunannya membuat Samin dipercaya untuk menjadi partner KPMG Hanadi Sudjendro dari tahun 1987-1998.
Ia kemudian bergabung ke perusahaan jasa akuntansi Deloitte & Touche selama 4 tahun (1998-2002).
4 Tahun kemudian, ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan investasi Renaissance Capital Asia bersama Surjadinata Sumantri.
Sebagai direktur utama, Samin memiliki ambisi yang besar, membuatnya memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan Bakrie Group.
Jasanya pernah digunakan perusahaan Bakrie Group, PT Bumi Resource Mineral Tbk untuk mengakuisisi PT Kaltim Prima Coal dari Beyond Petroleum Plc dan Rio Tinto.
Tak puas dengan perusahaan keuangan, Samin Tan merambah ke pertambangan dengan mendirikan perusahaan PT Republik Energi dan Metal.
Ia juga mengambil alih PT Borneo Lumbung Energy dan mengubahnya menjadi perusahaan utamanyya.
Di bawah kendali Samin Tan, PT Borneo Lumbung Energy menjadi salah satu perusahaan tambang yang cukup disegani di tanah air.
Batu bara jenis metalurgi yang dihasilkan perusahaan tersebut dikenal dengan kualitasnya yang tinggi.
PT Borneo Lumbung Energy juga menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang memproduksi metalurgi.