Saat Lebaran tiba, mereka kembali ke kampung halaman. Kebiasaan tersebut kemudian semakin dikenal dengan istilah mudik.
3. Transportasi massal mempercepat perkembangan tradisi mudik
Perkembangan transportasi memberikan pengaruh besar terhadap tradisi ini. Kereta api, bus antarkota, kapal laut, hingga pesawat memudahkan perjalanan jarak jauh.
Jaringan jalan yang semakin luas juga mempercepat mobilitas masyarakat. Perjalanan yang dahulu memakan waktu lama menjadi lebih cepat.
Kondisi tersebut membuat jumlah pemudik terus meningkat setiap tahun.
4. Mudik menjadi fenomena sosial nasional
Memasuki era modern, mudik Lebaran menjadi fenomena sosial berskala nasional. Pemerintah dan berbagai lembaga rutin memantau pergerakan pemudik setiap tahun.
Lonjakan jumlah kendaraan dan penumpang terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Perjalanan ini melibatkan berbagai moda transportasi.
Jalur darat biasanya dipadati kendaraan pribadi dan bus antarkota. Sementara itu, kereta api dan pesawat juga mengalami peningkatan jumlah penumpang.
5. Mudik berkembang menjadi tradisi tahunan
Saat ini mudik Lebaran telah menjadi tradisi tahunan yang kuat di masyarakat. Perjalanan pulang kampung tidak hanya dilakukan oleh pekerja perantauan.
Mahasiswa, pegawai, hingga pekerja sektor informal juga melakukan perjalanan serupa. Mereka pulang untuk bertemu keluarga serta merayakan Lebaran bersama.
Tradisi tersebut berlangsung hampir setiap tahun dengan jumlah pemudik yang besar. Mudik pun menjadi bagian penting dari dinamika sosial masyarakat Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!