Kamis, 4 Juni 2026

5 Fakta Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia, Dari Zaman Kolonial hingga Menjadi Ritual Tahunan Jutaan Orang

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 15 Maret 2026 | 20:30 WIB
Ilustrasi mudik 2026. (Freepik/macrovector)
Ilustrasi mudik 2026. (Freepik/macrovector)

SketsaNusantara.id - Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu fenomena sosial terbesar di Indonesia. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Pergerakan besar masyarakat tersebut biasanya terjadi beberapa hari sebelum Lebaran. Jalan raya, stasiun kereta, pelabuhan, hingga bandara dipadati para pemudik.

Mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung. Tradisi ini berkembang menjadi bagian dari budaya tahunan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Jelang Nyepi dan Mudik Lebaran, Antrian Kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk Didominasi Mobil Pribadi dan Motor

Sejarah mudik Lebaran di Indonesia memiliki perjalanan panjang. Tradisi tersebut telah mengalami perubahan sejak masa kolonial hingga era modern.

1. Berawal dari perpindahan pekerja pada masa kolonial

Pada masa kolonial Belanda, banyak penduduk desa berpindah ke kota. Perpindahan tersebut terjadi karena kebutuhan tenaga kerja di pusat pemerintahan dan perdagangan.

Penduduk desa bekerja di berbagai sektor di kota-kota besar. Namun mereka tetap memiliki hubungan kuat dengan kampung halaman.

Ketika hari raya tiba, sebagian pekerja memilih kembali ke desa. Mereka pulang untuk bertemu keluarga dan merayakan Lebaran bersama.

Baca Juga: Cewek Solo Traveling Saat Mudik Lebaran? Mengapa Tidak, Perhatikan 7 Tips Aman Mudik Sendirian bagi Perempuan

Kebiasaan pulang ke kampung ini kemudian menjadi pola yang terus berlangsung.

2. Tradisi pulang kampung semakin berkembang setelah kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, urbanisasi meningkat di berbagai daerah. Banyak masyarakat desa merantau ke kota untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menjadi tujuan utama perantauan. Para perantau tetap menjaga hubungan dengan keluarga di daerah asal.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X