"Harusnya sekarang Pak Prabowo udah sadar bahwa beliau di-prank sama Trump. Kalau kata meme Gen-Z, IL (Israel) itu 0.2% populasi dunia yang bikin 99% masalah dunia, dan US (Amerika) hanya jongosnya," tulis Felix dalam unggahannya.
"Mereka gak pengen perdamaian pak, 1 tahun ini US nge-bom 8 negara berbeda lo. Mending cabut ajalah pak dari BoP. Indonesia lebih berharga dari sekedar melayani nafsu serakah Trump," tandasnya.
Sebelumnya, Felix Siauw sempat menyampaikan kritik tajam terhadap langkah Presiden Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace bentukan Trump. Ia menilai Indonesia sebaiknya tidak terlibat dalam forum yang menurutnya tidak netral dalam konflik Timur Tengah.
Ustaz Felix menyebut Board of Peace (Dewan Perdamaian) sebagai "penjajahan gaya baru", karena lembaga yang digagas oleh Donald Trump tersebut merupakan bentuk kesewenang-wenangan internasional yang melanggengkan dominasi pihak-pihak yang pro-Israel, sambil mengabaikan kedaulatan Palestina.
Menurutnya, lembaga tersebut beranggotakan negara-negara yang dianggap sebagai pendukung utama Israel, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, sehingga dinilai berpotensi bias.
Felix menyoroti bahwa dalam struktur yang beredar, Israel disebut menjadi bagian dari forum tersebut, sementara perwakilan Palestina tidak tampak memiliki posisi yang setara dan dinilai mirip dengan metode "kolonialisme dengan gaya baru".
Menurutnya, bergabung dengan lembaga ini sama dengan melegitimasi kezaliman dan menimbulkan pertanyaan soal keberpihakan Indonesia yang selama ini mendukung penuh kemerdekaan Palestina.
Tak hanya itu, Felix Siauw juga menyoroti adanya kewajiban pembayaran dana yang besar (mencapai 17 T) untuk mendapatkan keanggotaan tetap di Board of Peace, sementata penggunaan dana untuk kepentingan Palestina diragukan efektivitasnya.
Menurut Felix, keikutsertaan Indonesia dalam kelompok ini berpotensi bertentangan dengan amanat UUD 1945 bahwa penjajahan harus dihapuskan, bukan justru bergabung dengan perancang perdamaian yang bias.
Singkatnya, bagi Felix Siauw, Board of Peace bukanlah solusi nyata untuk perdamaian, melainkan cara baru bagi kekuatan besar untuk mengatur negara lain sesuai kehendak mereka.
Isu mediasi Indonesia muncul di tengah kekhawatiran global atas potensi meluasnya konflik di Timur Tengah. Selain dampak militer, eskalasi tersebut juga memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, termasuk harga minyak dan jalur distribusi energi.
Sejumlah pihak mendukung langkah diplomasi Indonesia sebagai upaya menjaga perdamaian, sementara sebagian lainnya mempertanyakan efektivitas dan posisi strategis Indonesia dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari pemerintah terkait mekanisme mediasi yang akan ditempuh dan tak sedikit pula yang mendesak Indonesia untuk keluar dari Board of Peace dengan kembali memegang prinsip bebas aktif yang mendukung perdamaian dunia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini