news

Penutupan Selat Hormuz Pasca Serangan Israel ke Iran Berdampak ke Pasokan Energi Indonesia? Ini Rencana Pertamina Hadapi Eskalasi Konflik Timur Tengah

Minggu, 1 Maret 2026 | 18:41 WIB
Potret Selat Hormuz yang jadi jalur vital pasokan minyak dunia resmi ditutup pasca serangan Israel ke Iran (X @stockholic)

SketsaNusantara.id - Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran vs Israel-Amerika Serikat (AS) kembali mengguncang stabilitas energi global.

Setelah serangan Israel ke Iran pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akhirnya resmi menutup selat hormuz yang menjadi jalur pelayaran strategis di dunia.

IRGC secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari Minggu, 1 Maret 2026 bagi seluruh lalu lintas kapal melalui siaran radio VHF, sebagai langkah balasan menyusul serangan rudal Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Teheran, Iran.

Baca Juga: 3 Fakta Selat Hormuz yang Ditutup Iran pasca Serangan AS-Israel ke Teheran, Jalur Vital Perdagangan Minyak Dunia

Penutupan jalur maritim strategis yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global, dengan prediksi lonjakan tajam pada harga minyak mentah serta biaya asuransi pengiriman.

Dalam rekaman suara yang beredar luas di media sosial, Iran melarang kapal-kapal melintas di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi nadi distribusi minyak dunia.

Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran global. Bukan hanya karena dampak militernya, tetapi karena selat selebar sekitar 54 kilometer itu merupakan pintu gerbang Teluk Persia sekaligus jalur utama rantai pasok energi dunia.

Baca Juga: Mulai Krisis Pasokan Energi hingga Lonjakan Harga Minyak Mentah, Pengamat Analisa Akibat Iran Tutup Selat Hormuz Karena Serangan Amerika

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA) tahun 2023, rata-rata 20 juta barel minyak mentah per hari diangkut melewati Selat Hormuz. Angka ini setara hampir 30 persen dari total perdagangan minyak dunia.

Sekitar 70 persen pengiriman tersebut ditujukan ke negara-negara Asia seperti Tiongkok, India, dan Jepang. Selain minyak mentah, sekitar 20 persen gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur ini.

Reuters melaporkan bahwa Selat Hormuz berulang kali menjadi pusat ketegangan global dalam satu dekade terakhir.

Secara historis, minyak dan Timur Tengah memang nyaris tak pernah benar-benar stabil di tengah konflik yang kerap berimbas langsung pada harga komoditas energi.

Baca Juga: Media Iran Konfirmasi Kematian Ali Khamenei dalam Serangan Amerika Serikat-Israel ke Teheran

Ancaman Iran untuk melumpuhkan Selat Hormuz, dipastikan akan mengguncang perekonomian global, termasuk Indonesia yang berstatus sebagai salah satu importir minyak.

Halaman:

Tags

Terkini