news

Sahur Keliling Bersama Dhuafa dan Kaum Marjinal di Jombang, Nyai Sinta Nuriyah Akui Telah Lakukan 26 Tahun Silam

Minggu, 1 Maret 2026 | 09:15 WIB
Istri Presiden RI ke 4 Nyai Sinta Nuriyah hadir di tengah acara sahur keliling bersama dhuafa dan kaum marginal di Ponpes Seblak, Diwek, Jombang. (SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Istri presiden keempat Rl Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah, menggelar Sahur Keliling di Pondok Al-Khoiriyah Seblak Diwek, Jombang, Minggu 1 Maret 2026, dini hari. Sedikitnya 300 undangan menghadiri acar bertema Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi ini.

Kegiatan digelar kerjasama Puan Amal Hayati dan Gusdurian Jombang. Tampak hadir pejabat pemerintahan, warga sekitar, santri, kaum marjinal dan perwakilan lintas iman.

Acara diramaikan dengan tampilan barongsai Anakonda Jombang dan sanggar tari Wilwatikta. Termasuk tampilan hadrah Qolbu Qur'an dari santri Pondok Seblak.

Baca Juga: 5 Fakta Terbaru Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau, Direncanakan Sejak November 2025 hingga Keputusan Kampus DO Pelaku

Rangkaian kegiatan dibuka dengan menyanyikan lndonesia Raya dan mars Syubanul Wathan. Dilanjutkan pembacaan ayat-ayat al-Quran oleh siswi tunanetra dari SLB Muhammadiyah Jombang.

Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak Hj Rika Fauziyah Andarini menegaskan, Seblak bukan asing lagi bagi Nyai Sinta. "Karena dulu almarhum Gus Dur pernah mengajar bahasa Arab di madrasah Seblak sini," ujarnya.

Dirinya berharap jalinan ukhuwah yang sudah ada dijaga dengan baik. "Semoga para hadirin bisa meneladani lbu Nyai Sinta dalam merangkul semua elemen masyarakat, sudah 26 tahun berkeliling menggelar sahur keliling ini," imbuhnya.

Baca Juga: Dari Panggung Hiburan, Azis Gagap Kini Fokus Ternak Kambing: yang Penting Bersyukur

Saat menyampaikan tausiyah, Nyai Sinta mengakui melakukan sahur keliling sejak 26 tahun silam. "Saat masih mendampingi almarhum Gus Dur sebagai presiden keempat Rl," ujarnya.

Dia mengakui sahur bersama kaum marjinal dan dhuafa. "Di Jakarta saya sahur bersama para kuli bangunan, mbok-mbok penjual di pasar maupun di terminal, bahkan di kolong jembatan," imbuhnya.

Hal itu diakui dilakukan tidak dengan mudah. "Karena yang tinggal di Indonesia berbeda-beda dari suku dan agamanya," imbuhnya.

Baca Juga: Apa Itu Cap Go Meh dan Bedanya dengan Imlek? Ini Arti Nama, Sejarah Panjang, dan Tradisi Khas Nusantara yang Menyertainya

Fakta ini, lanjutnya, mengharuskan anak bangsa lndonesia rukun satu sama lain. "Karena kita pada hakikatnya satu, jadi tidak perlu gontok-gontokan," pesannya.

"Sehingga hanya kursi dewan yang boleh diperebutkan, asal tidak dipakai untuk memecahbelah bangsa dan negara," ujarnya. "Tapi sebaliknya, harus digunakan membangun bangsa," tandasnya.

Halaman:

Tags

Terkini