SketsaNusantara.id - Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyoroti kenyataan pahit yang dialami masyarakat terkait kesejahteraan dan keadilan di Indonesia.
Dalam sebuah konferensi pers Gerakan Nurani Bangsa di Rumah Pergerakan Gus Dur, Jakarta, ia menyampaikan kegelisahannya.
Menurutnya, banyak rakyat yang masih bingung hendak bergantung pada siapa. Pemerintah diharapkan mampu memenuhi hak-hak dasar, tetapi hingga kini masih jauh dari harapan.
Nyai Sinta bahkan menyindir bahwa keadilan dan kesejahteraan seolah hanya ada dalam mimpi.
Baginya, rakyat harus mulai mandiri dan tidak terus berharap pada pemerintah yang tak kunjung berpihak kepada seluruh lapisan masyarakat.
"Kita semua berharap rakyat mendapat kesejahteraan, keadilan, dan persamaan hak. Tapi apakah itu hanya khayalan? sampai saat ini, semua masih terasa tidak jelas," ujar Nyai Sinta.
Nyai Sinta menegaskan bahwa kondisi masyarakat saat ini berada dalam kebingungan. Mereka tidak tahu siapa yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
"Saat ini, mereka tidak tahu siapa dirinya. Mereka kebingungan mau ditaruh di mana?" ungkapnya.
Dalam perjalanannya menggelar sahur keliling sejak tahun 2000, ia telah melihat langsung kehidupan rakyat kecil.
Mulai dari kaum dhuafa hingga kelompok marginal, semua masih mengalami ketidakpastian hidup. Kesejahteraan yang seharusnya menjadi hak mereka masih terasa jauh dari jangkauan.
Ia pun mengkritik ketidakjelasan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang adil dan merata bagi seluruh rakyat.
Artikel Terkait
Digembleng Prabowo di Lembah Tidar, Adik Gus Dur Usul Cak Imin dan Gus Ipul Ditempatkan di Satu Tenda! Apa Alasannya?
Amalan Sunan Ampel, Kyai Hasyim Asy'ari, hingga Gus Dur untuk Pembuka Aliran Rezeki yang Deras
Keponakan Gus Dur Angkat Bicara! Sohib Gus Miftah, Gus Ipang Wahid Beri Pesan Menyentuh Buntut Olok-Olok Pedagang Es Teh: Ada 2 Hikmah...
Profil Sahabat Gus Miftah, Siapa Sosok Gus Ipang Wahid? Mulai Jejak Pendidikan, Karier hingga Silsilah Hubungan Keluarga dengan Gus Dur
Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi