news

Mengapa Muhammadiyah Kerap Berbeda dalam Menetapkan Awal Puasa Penjelasan Metode Hisab hingga Kalender Hijriyah Global Tunggal

Senin, 16 Februari 2026 | 21:30 WIB
Tangkapan layar yang menjelaskan metode penentuan awal puasa Muhammadiyah dan konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal. (X/BilalFahrur)

Dengan metode tersebut, penetapan awal bulan didasarkan pada keberadaan hilal di salah satu titik wilayah Indonesia.

Namun, Muhammadiyah kemudian melakukan pembaruan pendekatan melalui ijtihad.

Dalam unggahan itu disebutkan, sekarang, Muhammadiyah berubah metode melalui ijtihad (bukan rapat-red) dengan menggunakan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal).

Perubahan ini menandai pergeseran paradigma dari skala nasional menuju skala global.

Konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal atau KHGT mengusung prinsip kesatuan kalender Islam secara internasional.

“Intinya metode ini adalah di mana pun di DUNIA ini yang sudah muncul hilalnya (dengan kategori elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat), maka sudah masuk bulan baru untuk SELURUH DUNIA,” tulis @BilalFahrur.

Dengan kata lain, jika kriteria visibilitas hilal terpenuhi di satu titik di dunia, maka seluruh umat Islam secara global dianggap telah memasuki bulan baru.

Menurut penjelasan tersebut, inilah yang menjadi penyebab perbedaan awal puasa.

Dalam contoh yang diangkat, disebutkan bahwa pada tanggal 17 Februari hilal sudah terlihat di Port Heiden, dataran benua Amerika.

Karena kriteria global telah terpenuhi, maka berdasarkan metode KHGT, seluruh dunia dianggap memasuki bulan baru.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia umumnya menggunakan pendekatan yang mempertimbangkan hasil rukyat dan kriteria yang berlaku di wilayah Indonesia.

“Berbeda dengan pemerintah Indonesia yang kemungkinan besar akan puasa di tanggal 19 Februari. Kenapa? Karena memang baru di tanggal 18 Februari sore itu, hilal nampak di salah satu daerah Indonesia,” tulis @BilalFahrur.

Artinya, penetapan awal Ramadhan menunggu terpenuhinya kriteria hilal di wilayah Indonesia.

Perbedaan ini juga dirangkum dalam istilah fikih klasik. Konsep ittihad al mathali memandang bahwa terbitnya hilal di satu wilayah berlaku untuk seluruh dunia, sedangkan ikhtilaf al mathali mengakui perbedaan lokasi geografis sebagai faktor penentu perbedaan awal bulan.

Secara astronomis, perbedaan ini berakar pada cara memahami distribusi visibilitas hilal di permukaan bumi.

Halaman:

Tags

Terkini