SketsaNusantara.id - Perbedaan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah kerap menjadi perbincangan publik setiap tahun.
Fenomena ini kembali disorot setelah penjelasan yang diunggah oleh @BilalFahrur melalui akun X pribadinya menuai perhatian warganet.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun X @BilalFahrur, ia mencoba memaparkan secara ringkas alasan mengapa Muhammadiyah bisa menetapkan awal puasa lebih dahulu dibandingkan pihak lain.
Penjelasan tersebut dimulai dengan dasar metode yang digunakan Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Hijriyah.
“Kita tahu semua Muhammadiyah memakai hisab dalam menentukan bulan-bulan Hijriyah, termasuk dalam awal/akhir Ramadhan dan awal Dzulhijjah,” tulis akun @BilalFahrur.
Metode hisab merupakan pendekatan astronomi yang menghitung posisi bulan secara matematis, berbeda dengan metode rukyat yang mengandalkan pengamatan langsung hilal.
Bilal juga menegaskan bahwa pandangan ini bukan pendapat tunggal.
Ia menyebut adanya rujukan ulama internasional dan pendapat mereka ini tidak sendiri, ada Syekh Ahmad Muhammad Syakir dari Mesir, pentahqiq kitab Ar Risalah Imam Asy Syafi'i yang berpendapat demikian.
Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan hisab memiliki landasan pemikiran dalam khazanah keilmuan Islam.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sebelumnya Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal yang hanya berlaku dalam lingkup Indonesia.
“Dulu, hisabnya itu pakai metode WH (Wujudul Hilal) yang hanya berlaku untuk Indonesia saja. Jadi, kalau ada hilal di manapun di wilayah Indonesia, maka Indonesia sudah masuk bulan baru,” demikian keterangan unggahan tersebut.