Keluarga kemudian membawa Dava ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
“Kemudian kami ke puskesmas. Dari sana dirujuk ke rumah sakit umum kota, setelah rontgen dan scan katanya ada tulang yang hancur,” ujar Nur, sebagaimana dikutip dalam keterangan tertulis. Pemeriksaan lanjutan memastikan adanya tumor yang memerlukan penanganan intensif.
Setelah didiagnosis, Dava menjalani serangkaian terapi medis.
“Setelah pemeriksaan lanjutan, Dava dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Sejak Juni 2025, ia rutin menjalani kontrol dan bulan ini dijadwalkan menjalani kemoterapi.” Tahapan pengobatan ini menunjukkan bahwa kondisi Dava membutuhkan perawatan berkelanjutan dan tidak singkat.
Kabar baiknya, Dava telah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial.
“Nur menyebut sejumlah bantuan sudah diterima dari Dinas Sosial, NU, kelurahan dan kecamatan,” demikian disebutkan dalam informasi tersebut.
“Meski begitu, kebutuhan biaya pengobatan masih cukup besar,” lanjut keterangan tersebut.
Hal ini mengingat terapi tumor, termasuk kemoterapi dan kontrol rutin, memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Dalam pengakuannya, Dava sempat merahasiakan penyakitnya dari sang ibu. Dava mengaku tumor itu pertama kali muncul pada Februari 2025.
Ia tidak menyadarinya hingga sang ibu memberi tahu. Ia juga mengenang awal mula munculnya benjolan tersebut.
“Waktu itu saya habis bangun tidur, Ibu yang bilang ada benjolan di belakang badan,” katanya.
Pengakuan ini menggambarkan betapa kondisi tersebut awalnya tidak disadari sebagai penyakit serius.
Menariknya, meski dalam kondisi sakit, Dava tetap berusaha menjalani aktivitas seperti biasa.
“Saat tumor mulai terlihat, Dava masih aktif sekolah. Ia memilih diam dan tidak pernah menceritakan kondisinya kepada teman maupun guru,” demikian disebutkan dalam informasi tersebut.
Sikap ini menunjukkan keteguhan dan keinginannya untuk tetap menjalani kehidupan normal di tengah keterbatasan fisik.