Ia mengingatkan bahwa kabar burung ini bisa menimbulkan kepanikan publik dan justru beresiko memicu krisis seperti yang terjadi di tahun 1997.
Sebelumnya, Komdigi juga memberikan klarifikasi bahwa kabar soal pemadaman listrik total adalah tidak benar atau hoaks. Melalui website resmi, Komdigi menjelaskan bahwa tidak ada imbauan apapun atau dasar fakta yang mendukung klaim tersebut.
Sementara itu, PT PLN (Persero) selaku perusahaan listrik yang mengelola kelistrikan negara juga memastikan bahwa sistem kelistrikan nasional (khususnya Jawa-Bali) dalam kondisi aman dan masih beroperasi normal dengan cadangan daya yang lebih dari cukup.
Klarifikasi ini menegaskan bahwa video yang beredar telah disalahartikan atau sengaja dipelintir sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan memicu kepanikan masyarakat.
Isu pemadaman 7 hari di Indonesia viral dari potongan video yang disalahartikan dari konteks kesiapsiagaan darurat akibat bencana (cuaca ekstrem) atau serangan siber.
Isu pemadaman listrik yang katanya disebabkan oleh badai matahari juga telah dibantah oleh BMKG. Pihaknya menyatakan bahwa infrastruktur kelistrikan Indonesia relatif aman dari dampak fenomena antariksa tersebut karena posisi geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa.
Meski begitu, masyarakat di Indonesia kini juga mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi hal terburuk seperti kejadian global blackout yang terjadi di Eropa pada bulan April 2025 lalu.
Sejumlah negara mulai dari Perancis hingga Spanyol terdampak akibat pemadaman listrik total secara tiba-tiba yang mengganggu aktivitas warga, termasuk sarana transportasi dan komunikasi yang mendadak lumpuh selama 2-3 berturut-turut.
Kini, sejumlah negara dan lembaga internasional juga tengah meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan peringatan dini darurat akibat kombinasi cuaca ekstrem dan krisis keamanan.
Sistem peringatan 72 jam mulai disosialisasikan agar warga mempersiapkan persediaan (makanan, air, obat-obatan) untuk menghadapi potensi krisis tersebut.
Situasi darurat ini umumnya berkaitan dengan ketahanan bencana akibat cuaca ekstrem, atau krisis keamanan di wilayah spesifik yang terdampak akibat konflik, bukan satu kebijakan seragam global yang berlaku serentak di seluruh negara.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini