news

Tragedi Bocah SD di Ngada NTT Jadi Alarm Keras, Akademisi Unair Soroti Minimnya Perhatian pada Kesehatan Mental Anak

Sabtu, 7 Februari 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi kondisi psikologis anak, berkaca dari tragedi bocah SD di Ngada NTT yang nekat mengakhiri hidup karena tekanan ekonomi karena tak bisa membeli buku dan pena untuk sekolah (Pexels/Juan Pablo Serrano)

Selain karena tekanan ekonomi, akademisi juga turut menyoroti tragedi ini dari sudut pandang kesehatan mental anak. Aspek psikologis dinilai memiliki peran penting yang sering kali luput jadi perhatian.

Prof. Dr. Bagong Suyanto, Guru Besar Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), menilai peristiwa tersebut sebagai peringatan serius bagi masyarakat, agar pemerintah juga lebih peka terhadap kondisi emosional anak.

Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah minimnya pemantauan psikologis terhadap anak-anak, terutama yang tinggal di wilayah perdesaan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan mental.

Baca Juga: Kisah Haru Siswa SD Luqman Al Hakim Kaliurang, Tak Sengaja Bertemu Kembali dengan Nenek yang Hilang saat Kunjungan Sekolah ke UPTD Liposos Jember

"Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan," ujar Prof. Bagong, dikutip SketsaNusantara.id dari situs resmi Unair,  pada hari Sabtu, 7 Februari 2026.

"Kurangnya pendampingan serta akses terhadap layanan psikologis juga membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup," lanjutnya.

Dekan FISIP Unair itu juga menegaskan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam mengenali tanda-tanda awal tekanan emosional pada anak.

Dukungan sosial dari orang tua, teman sebaya, dan masyarakat dinilai menjadi pondasi penting bagi perkembangan mental yang sehat.

Baca Juga: Ayah dr Aulia Risma Korban Perundungan PPDS Undip Meninggal Dunia, Inilah 5 Bahaya Negatif Bullying bagi Psikologis

"Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan," tegasnya.

Kasus YBR juga mencerminkan bagaimana tekanan ekonomi dan kemiskinan struktural dapat berdampak lebih jauh hingga memengaruhi kesejahteraan psikologis anak.

Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, anak berisiko mengalami tekanan emosional bahkan sampai mereka merasa putus asa. Mirisnya, tekanan emosional ini kerap tidak terdeteksi sejak dini.

Situasi tersebut diperparah oleh keterbatasan layanan kesehatan mental di banyak daerah terpencil, sehingga gejala stres atau kecemasan pada anak sering luput dari perhatian dan tak mendapat penanganan lebih awal.

Baca Juga: Sering Tak Sadar Main HP Terlalu Lama? Waspadai Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental

"Kondisi ekonomi yang sulit dapat memicu stres dan kecemasan pada anak, yang kemudian berdampak pada kesejahteraan mental mereka," ucap Prof. Bagong.

"Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak juga merasakan dampaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung," tambahnya.

Halaman:

Tags

Terkini