Berkaca dari kejadian ini, pemerintah diharapkan pemerintah bisa mengembangkan pendekatan community support system, melalui lembaga sosial lokal yang dapat memberikan dukungan psikologis dan emosional kepada anak-anak di daerah terpencil.
Dosen FISIP yang pernah menjadi konsultan UNICEF itu juga mengajak dukungan komunitas lokal, sekolah, tokoh masyarakat, serta dari pemerintah daerah untuk bekerja bersama membangun jaringan perlindungan anak yang lebih kuat, sehingga anak-anak tidak lagi merasa sendirian dan terabaikan ketika menghadapi tekanan hidup.
Baca Juga: Cara Tercepat Berhenti Overthinking, Tips Psikologi yang Membantu Kesehatan Mental
"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak, menciptakan jaringan dukungan yang bisa menjangkau setiap keluarga, terutama yang berada di daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," pesannya.
Tragedi YBR menjadi pengingat bahwa isu kesehatan mental anak bukan semata persoalan individu, melainkan tanggung jawab bersama.
Diperlukan pendekatan yang berkelanjutan agar kesetaraan pendidikan anak di Indonesia benar-benar menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan di daerah tertinggal.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Apa Hukum Bullying dalam Islam? Pahamilah Fakta dan Penjelasannya Sesuai Syariat
Menopause Bisa Picu Gangguan Psikologis? Yuk Kenali Gejala dan Cara Penanganannya
Jadi Gampang Emosi dan Tingkatkan Stress! Psikolog Sebut Cuaca Panas di Indonesia Berdampak Besar pada Kesehatan Mental, Ini Cara Mengatasinya
Pulihkan Psikologis Anak Pasca Banjir, BRI Gelar Program Trauma Healing di Sejumlah Wilayah Sumatra
Apa itu Peter Pan Syndrome? Begini Penjelasan Istilah Psikologis yang Dialami Onadio Leonardo, Mengaku 'Terjebak' di Kepribadian Usia 19 Tahun