SketsaNusantara.id - Puluhan pelajar SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan pendataan sementara, total 97 siswa menunjukkan gejala gangguan pencernaan dan harus memperoleh penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Informasi tersebut mencuat setelah para siswa mengeluhkan kondisi kesehatan yang menurun usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Rabu, 28 Januari 2026.
Informasi tersebut mencuat setelah para siswa mengeluhkan kondisi kesehatan yang menurun usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Rabu, 28 Januari 2026.
Keluhan yang dialami bervariasi, mulai dari mual, muntah, sakit perut, hingga diare, dengan tingkat keparahan yang berbeda pada masing-masing siswa.
Sebagian siswa bahkan perlu dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, termasuk ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Peristiwa ini menjadi sorotan publik lantaran berkaitan dengan program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik.
Berdasarkan informasi dari tenaga medis, gejala mulai dirasakan sejak Rabu sore dan berlanjut hingga malam hari. Kondisi sejumlah siswa kemudian memburuk, sehingga pada Kamis, 29 Januari 2026, mereka mulai dibawa ke rumah sakit oleh pihak sekolah maupun keluarga.
Sebagian siswa bahkan perlu dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, termasuk ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Peristiwa ini menjadi sorotan publik lantaran berkaitan dengan program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik.
Berdasarkan informasi dari tenaga medis, gejala mulai dirasakan sejak Rabu sore dan berlanjut hingga malam hari. Kondisi sejumlah siswa kemudian memburuk, sehingga pada Kamis, 29 Januari 2026, mereka mulai dibawa ke rumah sakit oleh pihak sekolah maupun keluarga.
Baca Juga: Kronologi Dugaan Keracunan MBG di SMAN 2 Kudus, Siswa Alami Gejala Sejak Semalam hingga Dilarikan ke Rumah Sakit
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri atas nasi putih, soto ayam suwir, tempe goreng, toge, serta buah kelengkeng. Hingga kini, hidangan tersebut masih menjadi fokus penelusuran guna mengidentifikasi kemungkinan sumber keracunan.
Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Resa Perkasa, menyampaikan bahwa hingga Kamis siang pihaknya telah menangani 24 siswa yang memerlukan perawatan medis.
“Siswa datang dengan keluhan mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Penyebab pastinya belum diketahui, namun sementara kami menduga adanya keracunan makanan,” ujar dr. Resa, dilansir SketsaNusantara.id dari akun X @Jateng_Twit.
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri atas nasi putih, soto ayam suwir, tempe goreng, toge, serta buah kelengkeng. Hingga kini, hidangan tersebut masih menjadi fokus penelusuran guna mengidentifikasi kemungkinan sumber keracunan.
Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Resa Perkasa, menyampaikan bahwa hingga Kamis siang pihaknya telah menangani 24 siswa yang memerlukan perawatan medis.
“Siswa datang dengan keluhan mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Penyebab pastinya belum diketahui, namun sementara kami menduga adanya keracunan makanan,” ujar dr. Resa, dilansir SketsaNusantara.id dari akun X @Jateng_Twit.
Baca Juga: MBG Kembali Telan Korban! Puluhan Ssiwa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan Makanan Usai Konsumsi Menu Makan Gizi Gratis
Ia menjelaskan bahwa pihak rumah sakit masih melakukan pemeriksaan secara komprehensif untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Proses penanganan dilakukan dengan menerapkan sistem triase, yakni pengelompokan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan.
“Penanganan difokuskan pada klasifikasi triase, yakni kategori hijau, kuning, dan merah sesuai kondisi pasien,” jelasnya.
Meski sebagian besar pasien tidak berada dalam kondisi darurat, dr. Resa menambahkan bahwa beberapa siswa tetap memerlukan pemantauan lanjutan untuk memastikan kondisi mereka benar-benar stabil sebelum diperbolehkan pulang.
Berdasarkan pengakuan sejumlah pasien, keluhan mual mulai muncul sejak Rabu sore, tidak lama setelah mengonsumsi soto ayam. Kondisi kemudian semakin memburuk pada malam hari dengan munculnya diare, sehingga sebagian siswa tidak mampu beraktivitas seperti biasa.
Dugaan keracunan ini turut diperkuat oleh kesaksian orang tua siswa. Salah satunya Nur Wahidah, yang mengaku harus membawa anaknya ke RSUD Kudus menggunakan ojek online akibat kondisi kesehatan yang menurun drastis.
“Awalnya perut terasa mulas, lalu malamnya mengalami diare. Banyak temannya juga mengalami hal yang sama, sehingga saya langsung membawanya ke rumah sakit,” ungkapnya.
Menurut Nur Wahidah, anaknya mulai merasakan keluhan tidak lama setelah menyantap menu MBG. Ia berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.
Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan mencapai sekitar 97 orang dari total 1.180 penerima MBG di SMA Negeri 2 Kudus.
Pemerintah daerah, lanjut Sam’ani, telah berkoordinasi dengan instansi kesehatan serta pihak terkait lainnya guna menangani kasus tersebut dan memastikan kondisi seluruh siswa terus terpantau.
Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penting dalam pelaksanaan program MBG, khususnya menyangkut keamanan pangan, proses pengolahan, serta mekanisme distribusi makanan ke sekolah-sekolah.***
Ia menjelaskan bahwa pihak rumah sakit masih melakukan pemeriksaan secara komprehensif untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Proses penanganan dilakukan dengan menerapkan sistem triase, yakni pengelompokan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan.
“Penanganan difokuskan pada klasifikasi triase, yakni kategori hijau, kuning, dan merah sesuai kondisi pasien,” jelasnya.
Meski sebagian besar pasien tidak berada dalam kondisi darurat, dr. Resa menambahkan bahwa beberapa siswa tetap memerlukan pemantauan lanjutan untuk memastikan kondisi mereka benar-benar stabil sebelum diperbolehkan pulang.
Berdasarkan pengakuan sejumlah pasien, keluhan mual mulai muncul sejak Rabu sore, tidak lama setelah mengonsumsi soto ayam. Kondisi kemudian semakin memburuk pada malam hari dengan munculnya diare, sehingga sebagian siswa tidak mampu beraktivitas seperti biasa.
Dugaan keracunan ini turut diperkuat oleh kesaksian orang tua siswa. Salah satunya Nur Wahidah, yang mengaku harus membawa anaknya ke RSUD Kudus menggunakan ojek online akibat kondisi kesehatan yang menurun drastis.
“Awalnya perut terasa mulas, lalu malamnya mengalami diare. Banyak temannya juga mengalami hal yang sama, sehingga saya langsung membawanya ke rumah sakit,” ungkapnya.
Menurut Nur Wahidah, anaknya mulai merasakan keluhan tidak lama setelah menyantap menu MBG. Ia berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.
Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan mencapai sekitar 97 orang dari total 1.180 penerima MBG di SMA Negeri 2 Kudus.
Pemerintah daerah, lanjut Sam’ani, telah berkoordinasi dengan instansi kesehatan serta pihak terkait lainnya guna menangani kasus tersebut dan memastikan kondisi seluruh siswa terus terpantau.
Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penting dalam pelaksanaan program MBG, khususnya menyangkut keamanan pangan, proses pengolahan, serta mekanisme distribusi makanan ke sekolah-sekolah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!