"Isinya orang-orang NPD, orang gila, pembunuh biadab, orang sakit jiwa, penjahat perang, yang katanya untuk ngobrolin 'perdamaian', tapi sebenarnya hanya PENJAJAHAN dengan narasi baru," tuturnya.
Dalam unggahannya, Felix Siauw mempertanyakan efektivitas Board of Peace yang diinisiasi Trump dan pengaruhnya bagi kemerdekaan Palestina.
"Di titik mana Board of Peace menyediakan solusi bagi warga Palestina? Di mana mereka pernah berlaku adil? Apa Presiden lupa bahwa selama ini Amerika jadi salah satu negara yang bikin PBB nggak bisa gerak (karena punya hak veto)," ujarnya.
"Menurutku, ini adalah penjajahan gaya baru. Kesewenang-wenangan, kedzaliman, orang-orang yang merasa petantang-petenteng dia adalah admin yang ngatur dunia, nentuin nasib orang lain dan Presiden kita ikut di dalamnya, bayar pula," tandasnya.
Tak sampai di situ, Felix Siauw juga mengingatkan bahwa Board of Peace menjadi sekumpulan para pemimpin dunia seperti Amerika dan Inggris yang sebenarnya menjadi sponsor dan menyokong Israel dalam kejahatan perang genosida di Gaza, Palestina.
"Anggotanya Board of Peace ini ada Inggris, kemudian ada juga Israel, di mana troublemaker-nya juga ada disana untuk ikut mengambil keputusan, terus mereka mau ngatur-ngatur Gaza. Silahkan mereka berdiskusi, meskipun nanti hasilnya bilang nggak, tapi aturannya tetap keputusan tetap di tangan orang-orang seperti Trump, Tony Blair, Netanyahu," ujarnya.
"Orang-orang berkuasa ini ngatur-ngatur orang-orang Palestina tanpa justru ada wakil daripada orang-orang Palestinanya sendiri. Kita sebut apa? Kita sebutnya dengan penjajahan pemikiran," tuturnya.
"Tapi sekarang Indonesia justru ikut-ikutan masuk dalam Board of Peace untuk mengatur negara-negara besar seperti Amerika, Inggris, ada juga Israel di sana, untuk melakukan kolonialisme gaya baru, penjajahan gaya baru lewat yang namanya Board of Peace."
Melalui unggahannya Felix Siauw menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan Presiden yang seharusnya tetap berpegang pada konstitusi dan UUD 1945.
"Bayangin kalau seandainya pada saat kita sudah merdeka terus kemudian Belanda didukung oleh Inggris Datang lagi ke Indonesia untuk mengatur-ngatur. Emang kita mau? Tentu tidak," ujarnya.
"Padahal kita di UUD45 jelas-jelas menolak penjajahan. Eh, malah sekarang kita nurut sama Trump yang jangankan perdamaian dunia, negaranya sendiri aja nggak damai," tandasnya.