news

Sekolah Rusak Diterjang Banjir Bandang Sumatera, Tangis Siswa SD di Agam Ini Ungkap Kerinduan Belajar

Senin, 19 Januari 2026 | 21:00 WIB
Bocah di Sumatera Barat berharap bantuan untuk sekolahnya usai bangunan rusak diterjang banjir bandang. (Instagram/ajo_wayoik)

SketsaNusantara.id - Bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh permukiman warga.

Sektor pendidikan turut mengalami kerusakan serius akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Di beberapa daerah, bangunan sekolah rusak hingga tidak dapat digunakan. Material banjir berupa lumpur, batu, dan kayu menutup ruang belajar. Aktivitas pendidikan pun terganggu dalam waktu lama.

Kondisi tersebut terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan siswa harus menjalani pembelajaran darurat. Sebagian sekolah bahkan kehilangan hampir seluruh bangunan utamanya.

Baca Juga: Hampir 2 Bulan Usai Banjir, Dusun Lhok Pungki Aceh Utara Hilang, Hunian Warga Berubah Jadi Sungai Baru

Salah satu cerita datang dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Khaira, siswa SDN 14 Labuah, Sungai Batang, terdampak langsung banjir bandang. Ia menunjukkan kondisi sekolahnya yang rusak parah pascabencana.

Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @ajo_wayoik, Khaira menceritakan situasi belajar saat ini. Ia dan teman-temannya tidak lagi menggunakan ruang kelas sekolah. Proses belajar dilakukan di shelter darurat.

“Kelas 4, sekarang sekolah di shelter. Sekelas 14 orang dan muat semua di shelter,” ucap Khaira dikutip dari video pada Minggu, 18 Januari 2026.

Baca Juga: Video Viral Ungkap Warga Kampung Durian Tinggal di Kuburan Tionghoa Usai Banjir dan Longsor Aceh Tengah

Video tersebut memperlihatkan kondisi bangunan sekolah yang tertimbun material banjir. Batu besar dan tanah mengering menutup sebagian besar area sekolah. Gelondongan kayu juga terlihat di sekitar bangunan.

Lumpur banjir hampir mencapai bagian atap sekolah. Bangunan yang tersisa hanya setengah dari kondisi awal. Ruang kelas tidak lagi dapat digunakan untuk kegiatan belajar.

Kerusakan tersebut membuat Khaira menyampaikan harapannya kepada pemerintah. Ia berharap sekolahnya dapat kembali digunakan. Permintaan itu disampaikan dengan suara bergetar.

“Pak Menteri, bantu dong sekolah Khaira, Khaira mau sekolah lagi,” ucapnya.

Shelter darurat yang digunakan sebagai ruang belajar memiliki keterbatasan. Jarak dari rumah ke shelter cukup jauh. Medan yang dilalui juga tergolong sulit bagi anak-anak.

Halaman:

Tags

Terkini