SketsaNusantara.id - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela masih jadi pusat perhatian publik, termasuk di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Presiden AS, Donald Trump belum lama ini melancarkan serangan militer ke Ibukota Caracas dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro atas dugaan narkoterorisme pada hari Sabtu, 3 Januari 2026.
Aksi militer AS ini memicu perdebatan panas di kancah internasional. Sejumlah tokoh publik di Indonesia mengkritisi hal ini, salah satunya Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa. Menkeu menilai tindakan AS tersebut memperlihatkan "keanehan" dalam hukum internasional saat ini.
Purbaya menyoroti bagaimana sebuah negara kuat seperti AS dapat melancarkan serangan terhadap negara berdaulat tanpa mekanisme pengawasan dari Dewan Keamanan PBB yang kuat.
"Hukum dunia agak aneh sekarang. Kalau kita lihat satu negara bisa menyerang negara lain yang berdaulat dan seperti bisa gateway (lolos) dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya emang lemah sekarang," kata Purbaya saat ditemui awak media pada hari Selasa, 6 Januari 2026.
Tindakan semacam ini berpotensi membuka preseden berbahaya bagi hubungan internasional di masa depan, terutama dalam hal prinsip kedaulatan negara.
Baca Juga: Operasi Militer AS di Venezuela Picu Kekhawatiran, Pemerintah Pastikan Harga Minyak Indonesia Aman
Meski konflik ini memicu kekhawatiran global, Purbaya menilai kemungkinan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia yang relatif terbatas.
Ia menjelaskan bahwa dari sisi pasar modal dan nilai tukar, Indonesia sejauh ini belum terlihat mengalami guncangan yang berarti.
Bahkan, indeks harga saham gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan yang cukup stabil, bahkan cenderung menguat dalam beberapa sesi terakhir meskipun konflik geopolitik tengah memanas.
"Kalau saya lihat sih agak jauh. Kalau anda lihat pasar saham (IHSG) malah naik kan. Jadi market melihat justru sedikit positif, agak aneh sebetulnya. Tapi itu yang dari pasar," ungkap Purbaya.