“Fenomena ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh. Biasanya terjadi saat matahari berada di posisi rendah, seperti saat sore menjelang matahari terbenam," ujar Hartanto dalam keterangannya.
Lebih lanjut BMKG menambahkan bahwa warna merah pada langit bisa terlihat semakin pekat apabila didukung oleh kondisi atmosfer tertentu.
Fenomena langit merah di Pandenglang, Banten makin terlihat karena tingginya konsentrasi uap air, partikel aerosol atau debu di udara, ditambah kondisi Pandeglang yang sedang diguyur hujan.
BMKG menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena optik atmosfer yang wajar dan kerap terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
Bukan hanya di Banten, fenomena serupa juga pernah terjadi di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram @surabaya.terkini, tampak pemandangan langit di Kota Pahlawan itu terlihat kuning-jingga pekat setelah diguyur hujan tepat sebelum matahari terbenam.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak panik dan tidak langsung mengaitkan perubahan warna langit dengan pertanda bencana alam.
Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di musim hujan seperti saat ini.
Hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, dan petir masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Banten.
"Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan tidak mudah terpengaruh oleh isu atau kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya," ucap BMKG melalui akun media sosial resminya.
Dengan adanya penjelasan ini, BMKG berharap masyarakat dapat lebih tenang dan memahami bahwa fenomena langit merah yang sempat menghebohkan warga Pandeglang merupakan kejadian alam yang normal dan bukan pertanda datangnya bencana.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini