SketsaNusantara.id - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember menggelar workshop penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) dan Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana pada Minggu, 21 Desember 2025.
Kegiatan yang digelar di Balai Desa Puger Kulon ini bertujuan untuk mendorong warga agar lebih siap dalam menghadapi ancaman bencana yang berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari School and Community Resilience (SCR), hasil kerja sama PMI Jember dengan Palang Merah Jepang atau Japanese Red Cross Society (JRCS).
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua PMI Jember, Aep Ganda Permana, mengingatkan peserta agar tidak menyepelekan potensi bencana.
Ia mengajak masyarakat belajar dari tragedi banjir bandang yang melanda Panti pada tahun 2006 dan menelan banyak korban akibat minimnya kesiapsiagaan.
"Saya saksi hidup peristiwa Panti. Saat itu, air datang menyapu rumah dalam kondisi gelap dan hujan. Warga hanya bisa berlari tanpa tujuan, histeris, dan tak ada yang bisa saling menolong karena tidak adanya kesiapan," kenang Aep dengan emosional.
Aep menilai, ketangguhan masyarakat hanya dapat terbangun melalui pelatihan berkelanjutan, pemahaman prosedur evakuasi juga simulasi yang dilakukan secara rutin dan terencana.
Dalam praktiknya, workshop ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), tenaga pendidik, hingga relawan Korps Sukarela (KSR) Universitas Jember (UNEJ).
Materi pelatihan difokuskan pada penyusunan struktur organisasi tanggap darurat yang jelas, sehingga setiap warga memahami tugas pokok dan fungsinya dalam kondisi krisis.
Selain itu, dalam workshop ini peserta juga melakukan simulasi mandiri penanganan bencana, khususnya gempa bumi, termasuk teknik berlindung dan koordinasi menuju titik kumpul aman.
Koordinator Lapangan, Weni Catur, menegaskan pentingnya mengulang kembali materi dasar kebencanaan agar masyarakat tidak panik saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya.