SketsaNusantara.id - Di tengah proses pemulihan pasca bencana, solidaritas warga terus mengalir untuk para korban terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera Utara.
Tak hanya dari luar pulau, bantuan untuk korban banjir datang dari Sumatera Barat (Sumbar). Meskipun wilayahnya sendiri masih berjuang bangkit akibat banjir bandang, masyarakat Minangkabau tetap menunjukkan kepedulian dengan menyalurkan bantuan berupa rendang untuk warga terdampak bencana di Aceh dan Sumatera Utara.
Penyaluran bantuan rendang ini dibagikan oleh Ustadz Salim A Fillah. Melalui akun Instagram pribadinya, pendakwah asal Yogyakarta itu mengunggah momen saat warga mulai gotong royong memasak rendang hingga proses pengemasan dan pengiriman logistik ke daerah tujuan.
Dalam unggahannya, Ustadz Salim menyampaikan bahwa setidaknya ada 1 ton rendang yang dikirimkan ke Aceh dan Sumatera Utara hingga hari Jumat, 19 Desember 2025.
"Hari ini, warga sumbar menunjukkan solidaritas luar biasa. Mereka bersama-sama masak rendang 1 ton untuk saudaranya di Sumut dan Aceh," tulis Ustadz Salim A. Fillah dikutip SketsaNusantara.id dari akun Instagra @salimafillah_official.
Pengiriman Rendang ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain menjadi simbol budaya Minangkabau, makanan ini dikenal tahan lama dan praktis sebagai makanan siap saji di situasi darurat.
"Sejak dulu negeri ini selalu juara soal makanan, kita punya makanan siap saji seperti rendang yang tahan hingga berbulan-bulan," ujar Ustadz Salim dalam unggahannya.
"Rendang adalah bekal ketahanan, rasa rumah yang dibawa ke pengungsian dan pengingat bahwa negeri ini tahu cara bertahan. Kami kemas untuk bisa jadi makanan 1 keluarga," tuturnya.
Lebih lanjut, Ustadz Salim menjelaskan bahwa bantuan ini merupakan kolaborasi dengan 3 pesantern bersejarah di Sumatera Barat.
Total bantuan mencapai sekitar 1,2 ton rendang didistribusikan dari Minangkabau, kini sudah sampai ke Sumatera Utara dan Aceh.
"Walaupun Minangkabau berduka, tapi kami tetap peduli saudara kami di Aceh dan Sumatera Utara," begitulah pesan yang tertulis dalam spanduk mobil pengiriman yang disampaikan dari para penyintas di Sumbar.
Ustadz Salim mengapresiasi masyarakat Ranah Minang yang masih giat membantu sesama, tetap berbagi meski di tengah keterbatasan dan proses pemulihan yang belum sepenuhnya usai.