Ia menambahkan bahwa kejadian banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan kurangnya antisipasi di tingkat daerah.
Banyak warga tidak menerima informasi langsung sehingga tidak sempat melakukan langkah penyelamatan. Faktor itu disebut menjadi penyebab meningkatnya korban jiwa di sejumlah titik.
Dalam rapat yang sama, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem akibat siklon tropis Senyar sebenarnya sudah terprediksi.
“Jadi di daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat itu Kepala Balai 1, Balai Besar BMKG Wilayah 1 itu sudah mengeluarkan warning delapan hari sebelumnya, diulang lagi empat hari sebelumnya, kemudian dua hari sebelumnya,” ucap Fathani.
Ia juga menegaskan bahwa rilis resmi mengenai potensi siklon telah disampaikan beberapa hari sebelum kejadian. Dengan informasi tersebut, pemda diharapkan bisa melakukan antisipasi dan memberi peringatan kepada masyarakat di wilayah rawan.
Informasi dari lima balai besar BMKG disebut sebagai dasar penting dalam merencanakan langkah kesiapsiagaan.
Fathani mengingatkan agar kepala daerah mencermati setiap informasi yang dikirim melalui pos atau koordinator provinsi. Ia menambahkan bahwa pemda dapat mengundang koordinator balai untuk membahas kesiapan menghadapi ancaman cuaca ekstrem berikutnya.
BMKG mendorong koordinasi yang lebih cepat agar penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!