news

Apa itu Merit System? Fedi Nuril Minta Presiden Ganti Menhut Pasca Sumatera Diterjang Banjir dan Longsor, Kinerja Raja Juli Antoni Ramai Jadi Sorotan

Selasa, 2 Desember 2025 | 14:00 WIB
Potret aktor Fedi Nuril yang meminta Presiden Prabowo copot Raja Juli Antoni dari jabatan Menhut berkaca dari bencana banjir bandang & longsor yang Aceh-Sumbar yang menelan banyak korban jiwa (Instagram/fedinuril)

Sistem ini dicanangkan oleh Presiden untuk menciptakan birokrasi yang netral dengan menempatkan seseorang pada jabatan-jabatan yang sesuai kompetensinya.

Tujuan diberlakukan merit sistem ini untuk merekrut ASN atau mengangkat pejabat negara yang profesional dan berintegritas.

Sistem ini juga menjadi reformasi birokrasi di Indonesia yang diberlakukan secara adil dan transparan sehingga mengurangi praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).

Baca Juga: Publik Pertanyakan Kompetensi Veronica Tan yang Dipanggil Prabowo sebagai Calon Menteri

Namun, penerapan merit sistem kembali disorot lantaran pengangkatan menteri atau pejabat negara yang masih saja memakai 'kebiasaan lama' yang terkadang mengutamakan loyalitas politik daripada kemampuan kerja.

Fedi Nuril menyoroti ketidaksesuaian latar belakang pendidikan Raja Juli Antoni yang dinilai tidak sesuai dengan jabatan yang diembannya.

Diketahui, Raja Juli Antoni merupakan lulusan ilmu politik yang meraih gelar PhD dari University of Queensland, Australia.

Sebelum menjabat sebagai Menhut, ia pernah menjadi Wakil Menteri ATR/BPN dan dikenal sebagai kader PSI yang turut bergabung dalam tim pemenangan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Baca Juga: Joko Anwar Sebut Ifan Seventeen Tak Cukup Kompeten Jadi Dirut PFN, Ungkap Ada Sisi Positif dari Polemik Pemilihan Pimpinan Perusahaan Film Nasional

Minimnya pengalaman di bidang kehutanan dinilai tidak sejalan dengan prinsip merit system yang selama ini digaungkan pemerintah.

Kritik keras dilontarkan kepada Raja Juli Antoni setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh hingga Sumatera Barat. Publik menilai pemerintah gagal menjaga kelestarian hutan yang menjadi benteng alami dalam mencegah bencana ekologis.

Sejumlah video beredar menunjukkan ribuan gelondongan kayu terbawa arus banjir, menjadi indikasi kuat bahwa praktik pembalakan liar masih marak terjadi.

Data Global Forest Watch (2024) menunjukkan Indonesia kehilangan sekitar 300.000 hektare hutan primer setiap tahun, sebagian besar terkait aktivitas bisnis elit.

Baca Juga: Sentil Pemerintah, Melanie Subono Sampaikan Pesan Menyentuh Soroti Gajah Sumatera yang Mati Akibat Terseret Banjir di Aceh: Maafkan Kami...

Dampaknya, habitat satwa liar semakin menyusut. WWF mencatat populasi gajah Sumatra kini hanya tersisa sekitar 150 ekor, begitu pula dengan keberadaan harimau hingga populasi orang utan yang kian mengkhawatirkan.

Halaman:

Tags

Terkini